TITIKTEMU.CO - Di Kota Merauke, Papua, minuman kopi bukan lagi sekadar minuman sehari-hari.
Belasan tempat ngopi kaum milenial telah berdiri, menawarkan beragam jenis kopi dan metode penyeduhan yang menarik.
Dari kopi luar Papua hingga kopi asli Merauke, semuanya tersedia di kedai-kedai ini.
Kopi-kopi seperti Sota, Jagebob, Muting, Bupul, dan Ulilin menjadi daya tarik utama. Nama-nama kopi tersebut merujuk pada asal daerah atau lokasi tanam kopi di sekitar jalan trans Papua, Meruake-Pegunungan Bintang. Dari Sota hingga Boven Digul, kopi-kopi ini menawarkan cita rasa yang autentik.
Baca Juga: Menikmati Seduhan Kopi Tiga Rasa Cuma Ada Di Kudus
Jejak Sejarah Kopi Merauke
Pohon kopi di daerah ini dulunya tumbuh liar dan tak terurus. Ada yang mengatakan bahwa tanaman kopi di perbatasan Indonesia dan Papua Nugini merupakan peninggalan Belanda, namun ada juga yang yakin bahwa bibit kopi ini datang bersamaan dengan kedatangan transmigran pada tahun 1995.
Beberapa tahun lalu, kebun kopi ini terbengkalai karena harga kopi tidak menarik. Namun, setelah booming kopi beberapa tahun belakangan, minat orang untuk menikmati kopi lokal dari Merauke pun mulai muncul. Hal ini mendorong pemilik kebun kopi untuk kembali mengurus kebun-kebun kopi mereka.
Dukungan bagi Petani Kopi
Para pengusaha kopi turut membina petani kopi di perbatasan Merauke agar produksi kopi stabil dan dapat dipasarkan ke wilayah lain di Papua maupun luar Papua. Mereka memberikan bimbingan terkait penanaman, perawatan, pemanenan, dan kegiatan pascapanen.
Baca Juga: Ini Resep Es Kopi Susu Gula Aren, Dijamin Nggak Kalah dengan Coffee Shop
Kedai Koplink dan Rumah Kopi D’Waroeng (RKD) adalah dua dari belasan kedai kopi di Kota Merauke yang setia menyajikan kopi-kopi lokal dari Papua Selatan sebagai menu utama. Pemilik kedai memanfaatkan jasa petani kopi di perbatasan negara ini sebagai olahan produksi kopi lokal.
Jasman Tristanto, pemilik Rumah Kopi D’Waroeng (RKD) Merauke, mengakui bahwa kopi-kopi terutama di Muting adalah kopi dari hasil tanam transmigran pada kurun 80--90-an yang datang ke Merauke. Meskipun panenan kopi di Merauke belum terlalu besar, namun Jasman berupaya untuk mendorong petani lokal agar meningkatkan hasil panen mereka.
Mengolah Pascapanen Kopi dengan Metode Baru
Artikel Terkait
Kompetensi Barista Untuk Mengukuh Yogyakarta Coffe Hub Kopi Nusantara
Tumbuhnya Kopi Akar Wangi di Desa Wisata, Bukti Nyata Peranan Program BRI 'Klasterku Hidupku'
Pilih Kopi Robusta atau Arabika? Cek Perbedaan dan Manfaatnya untuk Kesehatan
Ramalan Zodiak 1 Desember 2023, Aries, Taurus dan Gemini, Kalau Sudah Mulai Stres, Cari Warung Kopi!
Solo Punya Tempat Beli Bahan Teh Oplos Ginastel yang Mantab Jiwa, Ada Juga Kopi dari Berbagai Daerah
Di Sukoharjo Ada Ndalem Kopi Ndoro Njero Jadi Tempat Makan Malam Paling Tenang, Estetik dan Tradisional Menunya
Tidak Asal Latah dan Ikut ikutan, Begini Hitung hitungan Sederhana Keuntungan Membuka Kedai Kopi
Harga Sewa Tempat untuk Kedai Bikin Geleng-geleng, Berapa Modal Gerilyawan Kopi Keliling Menggunakan Sepeda Motor?
Modal 5 Juta Bisa Buka Kedai Kopi Rumahan, Prioritaskan Tempat yang Nyaman Tak Harus Instagramable
Mengenal Rumah Kopi Sibu sibu di Ambon, Tempat Ngopi Paling Asyik dengan Nuansa Etnik dan Embusan Angin Sepoi-sepoi