Perjalanan mencari sosok Jeng Yah itulah yang membuat mereka secara tidak langsung melakukan napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Mengungkap asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia.
Baca Juga: Merasa Skuad Sudah Komplet, Carlo Ancelotti: Madrid Tidak akan Merekrut Siapa pun Lagi.
Selain itu, mereka juga mengetahui kisah kasih romonya di masa muda dengan Jeng Yah, putri Idroes Moeria, yang ternyata pemilik Kretek Gadis, kretek produksi lokal Kota M yang terkenal pada zamannya. Rokok kretek yang legendaris dan memiliki cita rasa tak tertandingi. Lantas apakah Lebas, Karim, dan Tegar berhasil menemukan Jeng Yah? Penasaran kan, segera baca novelnya.
Dari awal hingga akhir novel ini mengandung aroma tembakau, cengkeh, dan rokok kretek. Cover Gadis Kretek sangat menarik. Ilustrasi etiket dengan gambar seorang gadis berkebaya memegang rokok mewakili kisahnya yang berlatar belakang pengusaha rokok kretek.
Pada tahun 2019, Penerbit gramedia.com mencetak ulang novel dengan cover yang sedikit berbeda. Jika cover cetakan 2012 didominasi warna merah, cover baru dicetak dengan warna biru. Meski demikian tetap cakep dan tidak mengurangi kesan aroma tembakaunya.
Baca Juga: Presiden Sri Lanka Ajukan Pengunduran Diri Usai Kabur ke Singapura
Selain gambar cover, saya juga suka dengan ilustrasi kemasan kretek yang dikeluarkan oleh masing-masing pabrik (Pabrik Idroes Moeria dan Pabrik Soejagad). Menurut saya ilustrasinya unik dan menarik. Dengan adanya ilustrasi tersebut membuat pembaca tidak kesusahan membayangkan kemasannya.
Gadis Kretek dikisahkan dengan dua sudut pandang. Sudut pandang orang pertama dari tokoh Lebas, sebagai “aku”. Ia adalah anak ketiga dari pasangan Soeraja dan Purwanti. Gaya bercerita yang asyik membuat saya ikut merasakan dengan apa yang dirasakan Lebas. Penulis juga menggunakan sudut pandang orang ketiga, serba tahu sehingga memudahkan pembaca dalam memahami alur cerita dan ikut terhanyut dalam kisah masing-masing tokoh.
Alur Gadis Kretek adalah maju-mundur. Alur maju mengisahkan proses pencarian Jeng Yah oleh ketiga anak Soeraja. Selain informasi yang minim mengenai keberadaan Jeng Yah, perjalanan mereka tidaklah mudah sebab meskipun besaudara, Lebas (anak ketiga) dan Tegar (anak pertama) memiliki hubungan yang kurang akrab.
Baca Juga: PT KAI Terapkan Aturan Terbaru Naik Kereta Api. Wajib Antigen atau PCR Bagi Mereka ini
Sering berbeda pendapat dan berujung cekcok. Karim (anak kedua) sampai dibuat kewalahan untuk menengahi mereka. Hal itu cukup menghambat perjalanan mereka ke Jawa. Sementara alur mundur lebih ke perjalanan kisah generasi pertama dan kedua dalam merintis bisnis rokok.
Perlu diketahui bahwa secara garis besar novel ini mengisahkan tiga generasi dari dua keluarga di Kota M yang saling berseteru. Kedua keluarga tersebut berselisih sebab dua hal, kretek dan cinta. Diawali dengan kisah persaingan generasi pertama (Idroes Moeria dan Soejagad) merebutkan gadis pujaan dan persaingan bisnis kretek di era penjajahan Belanda-Jepang.
Kemudian berlanjut pada kisah generasi kedua (Dasiyah, Soeraja, dan Purwanti) di masa G30S, dan akhirnya cerita ditutup di generasi ketiga yang mengungkap kisah persaingan keluarga mereka dengan cara yang menurut saya kurang greget tetapi bijak dan elegan.
Tidak mudah merajut kisah tiga generasi keluarga dengan tetap mengatur ritme agar pembaca penasaran dengan konfliknya. Namun, menurut saya kisah ini diselesaikan dengan baik dan plot twist yang membuat tebakan saya sedikit meleset. Mantap!
Artikel Terkait
7 Fakta Menarik Film KKN di Desa Penari, Lokasi Masih Menjadi Teka-teki
Film Pengabdi Setan 2: Communion Lebih Mencekam, Ini Sinopsis dan Jadwal Tayang
5 Film Horor Terlaris dari KKN di Desa Penari Sampai Danur, Ini Peringkatnya
6 Film Iko Uwais, Semuanya tentang Perang Antar Geng
Tayang di Bioskop, Ini Sinopsis Film Ranah 3 Warna Sekuel Negeri 5 Menara
Link Nonton Kau dan Dia 2, Film Romansa Remaja Tayang di MAXStream
Tayang Bulan Juli, Ini 5 Rekomendasi Film Indonesia yang Cocok Ditonton Saat Akhir Pekan