TITIKTEMU.CO YOGYAKARTA – Beragam baju karya desainer asal Blora ditampilkan dalam ajang Muslim Fashion Festival (Muffest) + yang berlangsung di Hartono Mal Yogyakarta, Sabtu (9/4).
Sejumlah perancang busana menampilkan karya terbaiknya, dari baju kerja, santai, hingga baju pesta. Baju-baju apik itu merupakan karya sejumlah desainer diantaranya karya Nenni R Bayu, Go Ethnic, Sony, Ony Jannie, Yayuk Nusantara, Manggar Pelangi, Een Production, Nimas Barokah, Suthree Utomo, Een Martini, serta Snap Customwear.
Baca Juga: Ramai Tagar Yogya Darurat Klitih, IPW Minta Fungsi Intel dan Binmas Polri Dikedepankan
Baca Juga: Solo, Yogya dan Bali Jadi Pilot Project Wellness Tourism Indonesia, Apa itu Wellness Tourism?
Perancang busana Nenni R Bayu yang tampil perdana menyampaikan, dia memilih tema Alas Mustika, yang mengangkat potensi Blora, yakni pohon jati dan barongan. Dengan mengusung pakaian natural tapi elegan, dia memadukan batik berwarna hijau itu dengan aneka model.
Dilansir TITIKTEMU.CO dari laman Pemrov Jateng, Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo, Wakil Bupati Blora Tri Yuli Setiowati, dan Ketua Dekranasda Blora Ainia Solichah Arief Rohman ikut hadir menyaksikan langsung gelaran ajang busana muslim itu.
Baca Juga: MUDIK: Jumlah Pemudik Lebaran Bakal Melonjak, DPR Minta Kemenhub Pastikan Kenyamanan dan Keamanan
Ketua Dekranasda Jateng Atikoh Ganjar Pranowo mengapresiasi gelaran tersebut. Terlebih, Blora menampilkan beragam potensinya, mulai busana muslim kasual, resmi, hingga untuk pesta. Pemilihan warna dan motif, perpaduan antara batik, lurik, sangat menarik. Belum lagi modelnya yang apik, dibuat jaket dan sebagainya.
Dia menyampaikan, ajang tersebut diharapkan dapat meningkatkan ekonomi kreatif, khususnya fesyen. Mengingat potensi fesyen yang luar biasa, dia berharap Jawa Tengah bisa jadi pusat fesyen, khususnya muslim, dan fesyen pada umumnya.
“Captive market di Indonesia sudah sangat luas, belum lagi kalau merambah global. Tentu ini harus didukung dengan environment, kondisi ekonomi yang membaik. Kemudian pelaku usaha yang mesti terus belajar melihat peluang pasar, apa sasarannya remaja, ofisial, atau lainnya,” bebernya.
Baca Juga: Liga Inggris: Aston Villa 0-4 Tottenham, Trigol Son Heung Min Perkuat Posisi Zona Liga Champions
Diakui, selama pandemi dua tahun terakhir ini, perilaku pasar mengalami perubahan. Terlebih, dengan diberlakukannya work from home (WFH), yang membuat permintaan pasar beradaptasi, di mana masyarakat lebih memilih baju yang nyaman dipakai.
“Jadi, meskipun baju muslim harus syar’i, kainnya mesti nyaman, modelnya kasual tapi stylish,” ujar Atikoh.
Sementara, Ketua Dekranasda Blora Ainia Solichah Arief Rohman menyatakan bangga karena produk dari daerahnya bisa tampil di Muffest Yogyakarta. Dia berharap, produk dari daerah asalnya semakin diterima semua kalangan. Terlebih, selama pandemi ini penjualan batik berkurang.
Artikel Terkait
Tips Menjaga Kesehatan Jiwa ala Atikoh Ganjar Pranowo
Dari Kunjungan Presiden ke Blora (4-Habis): Bendungan Randugunting Juga Berguna Bagi Petani di Pati & Rembang
Di Tahun 2022 Pemkot Yogya Buka 12 Pelatihan: Mulai Stir Mobil, Barista sampai Pelatihan Event Organizer
Bupati Arief Rohman Ajak Puluhan Kasek di Blora Belajar Digital Leadership ke Kemendikbudristek
Ada Souvenir Miniatur Kincir Air di Obyek Wisata Plumpung Nglobo Blora
Sandal Jepit Motif Kayu Produksi Sukorame Blora Bisa Dipesan Online
HAJI 2022 : Alhamdulillah, Ibadah Haji 2022 Dibuka untuk 1 Juta Jemaah, Bagaimana Pembagian Kuotanya?