ekonomi

Harga Emas Turun, Niat Beli Ikut Luntur: Antara Logam Mulia dan Logika Hati-Hati

Kamis, 30 Oktober 2025 | 21:25 WIB
Ilustrasi Harga emas batangan yang sempat bersinar kini meredup perlahan. (Instagram/@pusatemas.id)

“Buat saya, masih mahal. Jadi sabar aja dulu,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan Yuda (35), warga Jakarta Pusat, yang baru menjual sebagian emasnya dua minggu lalu ketika harga masih tinggi.

Kini ia memilih bersikap hati-hati. “Kemarin sempat jual pas harga di atas Rp2,4 juta. Sekarang turun, tapi saya enggak langsung beli lagi. Takutnya nanti malah turun terus,” ucapnya.

Menurut Yuda, teman-temannya di kantor juga melakukan hal yang sama. “Kebanyakan nunggu stabil dulu. Soalnya harga emas ini cepat banget berubah,” tambahnya.

Baca Juga: Stoic di Era Overthinking: Seni Tenang di Tengah Kekacauan Digital

Antara Insting dan Investasi

Meski banyak yang menahan diri, emas tetap dianggap sebagai investasi jangka panjang yang aman. Yuda pun tak menyangkal hal itu.

“Kalau untuk jangka panjang sih tetap bagus, cuma sekarang waktunya belum pas,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan sisi lain masyarakat: mereka makin rasional dan tak lagi sekadar mengikuti tren FOMO (fear of missing out).

Ada kesadaran baru bahwa investasi bukan soal cepat untung, tapi soal waktu yang tepat.

Baca Juga: 2 Juta Data Bansos Dicoret: Efisiensi Bantuan atau Alarm Salah Sasaran?

Tekanan Global dan Dolar yang Perkasa

Secara global, penurunan harga emas terjadi karena aksi ambil untung setelah harga dunia naik selama sembilan pekan berturut-turut.

Optimisme terhadap potensi kesepakatan dagang AS–China mendorong investor berpaling ke aset berisiko seperti saham.

Analis Axis Securities, Deveya Gaglani, menilai bahwa tanpa ketidakpastian baru di dunia, harga emas akan sulit melonjak tajam.

Halaman:

Tags

Terkini