MEDSOS DAN KEMENANGAN BONGBONG, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Jumat, 13 Mei 2022 | 12:01 WIB
Ilustrasi. Berbagai jenis media sosial (Istimewa)
Ilustrasi. Berbagai jenis media sosial (Istimewa)

Baca Juga: Fix! Indonesia Gagal Maju ke Babak Empat Besar Uber Cup, Setelah Dikalahkan China 3-0 di Perempat Final
Informasi yang mengagungkan Marcos Sr. dan mendukung Marcos Jr. membanjiri Facebook, YouTube, TikTok, dan Twitter menjelang Pemilu 9 Mei lalu. Media sosial juga digunakan untuk menghantam kandidat lain dengan informasi yang salah atau palsu. Dengan kata lain, media sosial memainkan peran sangat penting dan pengaruhnya besar. Salah satu yang menjadi “medan pertempuran” adalah Facebook, platform yang sangat popular di Filipina dan digunakan oleh sebagian besar dari pengguna internet.

Kata Jonathan Corpus Ong (gmanetwork.com) seorang periset disinformasi di Universitas Massachusetts dan Harvard, kekuatan media sosial Bongbong Marcos Jr. adalah hasil dari “investasi jangka panjang” untuk merehabilitasi brand keluarga. CIPE menyatakan, keluarga Marcos dan pendukungnya berhasil memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan berita palsu, memungkinkan Marcos Jr. kembali ke panggung politik. Media sosial memanfaatkan lembaga demokrasi Filipina yang lemah, untuk mendukung Marcos Jr. dalam memulihkan dinastinya.

Baca Juga: Inter Juara Coppa Italia, Pasukan Simone Inzhaghi Berpeluang Raih Gelar Ganda

Perusahaan induk Facebook, Meta, telah menghapus hingga 400 akun dari Filipina yang terlibat dalam aktivitas jahat menjelang pemilu. Tetapi hal itu tidak cukup. Karena, ada ribuan lainnya di antara 91.000 pengguna di Filipina pada pertengahan 2021. Menurut survey “We are Social” (2021) ada 73,91 juta pengguna internet di Filipina. Temuan lain mengungkapkan, ada 89 juta pengguna media sosial di Filipina pada tahun 2021, meningkat 22 persen dari tahun 2020.

Jumlah pengguna media sosial di Filipina setara dengan 80,7 persen dari total populasi. Perbedaan antara pengguna internet dan pengguna media sosial menyiratkan bahwa banyak orang Filipina memiliki banyak akun media sosial. Bagi peneliti digital, ini mungkin berarti bahwa beberapa pengguna terlibat dalam perilaku seperti troll atau beberapa akun media sosial palsu dan/atau bukan manusia atau bot (Aries A Arugay, ISEAS Perspective 2022/33, 7 April 2022).

Baca Juga: CURAHAN HATI IQLIMA KIM (4): Ini Serangan Terparah Sih. Di Sini Aku Sempat Nyerah, Aku Udah Gak Kuat..

Kata Japhet Quitson (www.csis.org, 22 November 2021), sosial media adalah kekuatan fundamendal dalam masyarakat Filipina. Menggunakan sosial media adalah cara yang nyaman untuk mengetahui informasi dan mudah diakses, terutama karena konektivitas internet seringkali lambat dan tidak dapat diandalkan.

Aksesibilitas media sosial menjadikannya platform utama untuk mempengaruhi opini publik. Akibatnya, aktor politik rela melakukan apa saja untuk menarik perhatian publik.

Lebih dari 90 persen orang Filipina yang memiliki akses ke internet menggunakan media sosial. Facebook dan YouTube mendominasi negara: pada tahun 2021, sekitar 81 persen penduduk Filipina menggunakan Facebook; 85 persen orang yang memiliki akses internet menonton YouTube. Rata-rata pengguna internet Filipina menghabiskan hampir empat jam di media sosial setiap hari.

Baca Juga: Menang Telak Atas Wolves, Gelar Juara Liga Premier di Depan Mata untuk Manchester City

Bagi sebagian orang Filipina, Facebook adalah satu-satunya sumber berita mereka. Penduduk di kawasan miskin di sekitar Manila, yang mungkin tidak memiliki listrik, TV atau radio, mereka tetap memiliki telepon genggam.

Sebenarnya Bongbong Marcos Jr. kata Aries A. Arugay, mengulang yang dilakukan Rodrigo Dutarte pada Pemilu 2016. Pilpres 2016 secara luas dianggap sebagai “pemilihan media sosial” arus utama pertama di Filipina. Duterte memenangi pilpres atas bantuan “pasukan” media sosial.

Pakar politik Filipina mengaitkan kemenangan itu dengan penggunaan media sosial yang cerdas oleh kampanye Duterte hingga menyebarkan berita palsu. Namun, ia mengatakan bahwa kemenangan Duterte semata-mata karena strategi media sosialnya yang cerdas, melebih-lebihkan kekuatan manipulasi virtual selama waktu itu dan mengabaikan hubungan simbiosis antara semangat online dan mobilisasi politik akar rumput (Rappler, January 28, 2021).


Filipina juga merupakan negara teratas di mana responden mengakui bahwa mereka mengikuti influencer media sosial. Rata-rata di tingkat global hanya 22,1 persen menggunakan influencer sebagai sumber informasi utama, sementara di Filipina 51,7 persen responden, bahkan tentang politik dan pemilu.

Kata Camille Elemia (Rappler, 27 Februari 2021) ketergantungan pada influencer ini mengungkapkan bahwa orang Filipina lebih menghargai kepribadian dan individu daripada institusi yang sah seperti media, akademisi, dan bahkan organisasi masyarakat sipil sebagai perantara media sosial mereka.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Rekomendasi

Terkini

X