MEDSOS DAN KEMENANGAN BONGBONG, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Jumat, 13 Mei 2022 | 12:01 WIB
Ilustrasi. Berbagai jenis media sosial (Istimewa)
Ilustrasi. Berbagai jenis media sosial (Istimewa)

Baca Juga: Prediksi Final Piala FA: Liverpool Vs Chelsea, The Reds Berupaya Kawinkan Gelar Domestik Pertama

Apakah rakyat Filipina telah menghapus “dosa-dosa” Marcos dan kroninya sehingga kemarin memilih Bongbong sebagai presiden ke-17 Filipina? Apakah rakyat Filipina mudah lupa atau mudah melupakan tragedi yang mereka alami? Atau ada sebab-sebab lain? Misalnya, memang Bongbong layak dan pantas untuk dipilih memimpin negeri yang kini menghadapi berbagai persoalan mulai dari kemiskinan (lebih dari 16 persen hidup di bawah garis kemiskinan, sekitar 17,6 juta jiwa), politik dinasti, korupsi (di birokrasi dan korupsi di pemerintahan, ditambah nepotisme), pembelian suara (dalam pemilu dan kasus-kasus lain), pelaksanaan hukum, hingga extrajudicial killings (terutama di zaman pemerintahan Presiden Rodrigo Dutarte yang akan segera berakhir ini).

Baca Juga: Tiga Calon Rektor UGM Periode 2022-2027 Terpilih dalam Rapat Pleno Senat Akademik


Menurut angka resmi pemerintah, anggota Polisi Nasional Filipina dan Badan Penegakan Narkoba Filipina membunuh 5.903 orang selama operasi anti-narkoba dari 1 Juli 2016 hingga 30 September 2020.

Jumlah ini tidak termasuk mereka yang dibunuh oleh orang tak dikenal, yang oleh Human Rights Watch dan pemantau HAM lainnya adalah mereka bekerja sama dengan polisi dan pejabat setempat. Sumber lain, seperti Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB, menyebutkan jumlah korban tewas 8.663, meskipun kelompok HAM domestik, termasuk Komisi HAM pemerintah, percaya angka sebenarnya bisa tiga kali lipat dari jumlah yang dilaporkan dalam OHCHR (Human Right Watch, World Report 2021).

Baca Juga: Jonathan Christie Pastikan Kemenangan 3-0 Indonesia atas Cina di Perempat Final Thomas Cup 2022


Media Sosial
Menurut data Komisi Pemilu (Commission on Elections/Comelec) jumlah pemilih yang terdaftar 65,7 juta orang (The Filipino Times, 11 November 2021). Dari jumlah pemilih sebanyak itu, lebih dari 37 juta pemilih (56 persen) berusia antara 18-41 tahun, dan lima juta di antaranya baru pertama kali memilih (Nikkei Asia, 7 Mei 2022). Yang menarik, menurut Comelec, mereka yang baru pertama kali memilih, 4.094.614 di antaranya adalah perempuan. Usia mereka antara 18 hingga 21 tahun.

Mereka ini yang mendukung kampanye-kampanye Bongbong. Sebagian besar dari mereka lahir setelah rezim diktator Marcos berakhir (1986). Artinya tidak mengalami zaman pemerintahan Marcos yang otoriter, yang menurut Amnesti Internasional selama undang-undang darurat, memenjarakan 70.000 orang, menyiksa 34.000 orang, dan lebih dari 3.200 orang tewas selama itu.

Baca Juga: Berada di Urutan Pertama Jumlah Pengunjung Selama Libur Lebaran, Kota Lama Mampu Menyalip Candi Borobudur

Tetapi pemerintah hanya mengakui 11.103 korban, meskipun pada tahun 2013 telah mengesahkan Human Rights Victims Reparation and Recognition Act, sebuah undang-undang yang belum pernah ada di Asia untuk meminta pertanggungjawaban negara atas pelanggarannya (Kyodo News, 8 Maret 2022; CIPE/Center for International for Private Interprise, 20 April 2022).


Selain, generasi muda itu tidak mengetahui apalagi mengalami zaman Marcos, mereka sekarang hidup di zaman media sosial. Media sosial memainkan peran sangat penting dan pengaruhnya pun sangat besar. Para propagandis Bongbong Marcos Jr menggunakan media sosial untuk membersihkan sejarah, tujuannya untuk memberikan “penghargaan baru” terhadap Marcos Sr (Kyodo News, 8 Maret 2022).

Baca Juga: Kloter Pertama Berangkat 4 Juni 2022, Indonesia Berangkatkan 241 Kloter Calon Jamaah Haji

Kampanye lewat sosial media untuk me-rebranding era Marcos Sr—bukan sebagai periode darurat militer, dengan pelanggaran HAM yang mengerikan, korupsi parah, penjarahan kas negara, dan hampir keruntuhan ekonomi, tetapi sebagai zaman keemasan (golden age) kemakmuran, bebas kejahatan, zaman kebebasan (BBC, 10 Mei 2022; gmanetwork.com, 23 Maret 2022). Mereka beranggapan bahwa penggulingan Marcos Sr. adalah sebuah kesalahan. Karena, Marcos Sr. mampu membuat Filipina lebih baik.

Kampanye tersebut dimulai setidaknya satu dekade yang lalu. Mereka mengedit ratusan video lalu diunggah ke Youtube, yang kemudian diposting ulang di halaman Facebook. Ini meyakinkan jutaan orang Filipina bahwa fitnah terhadap keluarga Marcos setelah kejatuhan mereka tidak adil, bahwa kisah-kisah keserakahan yang tak tertandingi itu tidak benar.

“Ada spektrum kebohongan dan distorsi dalam video-video ini,” kata Fatima Gaw dari Departemen Riset Komunikasi Universitas Filipina. Tetapi, sebaliknya Bongbong mengatakan, bahwa keluarganya menjadi korban informasi tidak benar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Rekomendasi

Terkini

X