daerah

5 Tradisi Maulid Nabi di Pulau Jawa. Nomor 4, Suguhan yang Dibawa ke Mesjid Bisa Habiskan Jutaan Rupiah

Jumat, 7 Oktober 2022 | 10:58 WIB
Tradisi Angkaan Berkat, Gresik. Masyarakat membawa Angkaan untuk dikumpulkan di masjid (pic. Disparbud Gresik)

Kata Panjang ditafsirkan secara harfiah, adalah alat makan bentuk piring dan perabotan dapur peninggalan sejarah yang diisi dengan makanan dengan dianalogikan dengan prosesi kelahiran nabi.

Sedangkan kata Jimat, merupakan akronim dari kata diaji dan dirumat yang berarti dipelajari dan diamalkan yakni ajaran-ajaran Islam dengan maneladani nabi Muhammad SAW.

Sebelum kirab makanan, tradisi ini dimulai dengan tradisi siraman Panjang atau pencucian alat makan, guci, dan senjata yang akan digunakan selama kirap Panjang Jimat.

2. Grebeg Maulud

Gunungan diarak menuju Masjid Gedhe Kauman, tradisi Grebeg Maulud Kraton Yogyakarta (pic. Instagram @kratonjogja)

Upacara tradisi Grebeg dikenalkan pertama kali oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, ini merupakan upacara yang dulunya diadakan bertujuan untuk senantiasa menyebarkan dan melindungi agama Islam.

Dalam setahun terdapat 3 kali grebeg salah satunya adalah Grebeg Maulud. Kegiatan ini setiap tahunnya diadakan di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Grebeg Maulud diadakan untuk merayakan dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi Maulid Nabi pertama di Pulau Jawa adalah Grebeg Maulud yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta setiap tanggal 12 Rabiul Awal.

Baca Juga: Kapolri umumkan 6 tersangka Tragedi Kanjuruhan. Di antaranya Dirut PT LIB dan Ketua Panpel

Sama seperti tradisi Maulid Nabi lainnya, Grebeg Maulud ini dilaksanakan dalam rangka mengucap syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Upacara Grebeg diawali dengan parade prajurit Keraton yang keluar lengkap dengan panji-panji, senjata khusus dan alat musik. Robongan ini juga diikuti abdi Dalem yang membawa Gunungan.

Pada akhir parade Gunungan yang merupakan tumpukan berupa berbagai hasil bumi gunung, selalu menjadi ciri khas dalam upacara Grebeg dibawa keluar. Gunungan berupa hasil bumi itu merupakan simbol kemakmuran Keraton Yogyakarta yang nantinya
akan dibagikan kepada rakyatnya.

Baca Juga: Astaga, Lesti alami pergeseran tulang leher, kuasa hukum Rizky Billar bantah kliennya lakukan KDRT

Gunungan akan dibawa menuju Alun-alun utara dan akan di doakan di masjid Gedhe Kauman,setelahnya kemudian diperebutkan oleh masyarakat yang menonton acara grebeg tersebut.

Grebeg Maulud biasanya dirangkai dengan beragam acara, salah satunya adalah sekaten atau acara pasar malam yang digelar selama sebulan penuh.

Halaman:

Tags

Terkini