Ibadah Jumat Agung Bernuansa Alam, GKJ Karangdowo Angkat Tema Pertobatan Ekologis di Gunung Wijil

photo author
Afriadi, TitikTemu.co
- Jumat, 3 April 2026 | 14:27 WIB
Ibadah Jumat Agung Bernuansa Alam, GKJ Karangdowo Angkat Tema Pertobatan Ekologis di Gunung Wijil
Ibadah Jumat Agung Bernuansa Alam, GKJ Karangdowo Angkat Tema Pertobatan Ekologis di Gunung Wijil

TITIKTEMU.CO  – Perayaan Jumat Agung selalu menjadi momen sakral bagi umat Kristiani untuk mengenang wafatnya Yesus Kristus. Berbagai bentuk ibadah pun dilakukan dengan pendekatan yang beragam. Salah satu yang menarik perhatian datang dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Karangdowo, Klaten, yang menggelar ibadah di alam terbuka, tepatnya di kawasan Gunung Wijil, pada Jumat pagi, 3 April 2026.

Ratusan jemaat, diperkirakan mencapai lebih dari 500 orang, hadir mengikuti ibadah dengan mengenakan pakaian dominan warna hitam sebagai simbol duka. Suasana khidmat terasa berbeda karena seluruh rangkaian ibadah dilaksanakan secara lesehan dan menyatu dengan alam sekitar, menciptakan pengalaman spiritual yang lebih mendalam.

Mengusung tema “pertobatan ekologis”, ibadah ini dikemas secara unik dengan sentuhan teatrikal. Salah satu bagian yang paling mencuri perhatian adalah prosesi arak-arakan tujuh salib yang dibuat dari bambu. Selain itu, terdapat pula cucuk lampah yang mengawali jalannya prosesi dengan nuansa tradisional yang kental.

Baca Juga: KNKT: Pesawat ATR 42-500 Hancur Tabrak Gunung Bulusaraung, 1 Korban Ditemukan di Jurang

Dalam prosesi tersebut, tujuh pemeran tampil bergantian membawakan monolog singkat yang dipadukan dengan gerakan koreografi ekspresif. Perpaduan antara dialog dan gerak ini menggambarkan makna penderitaan, pengorbanan, sekaligus refleksi hubungan manusia dengan Tuhan dan alam ciptaan.

Tidak hanya melibatkan orang dewasa, kegiatan ibadah ini juga mengikutsertakan anak-anak sekolah Minggu. Mereka turut menyampaikan pesan moral melalui media visual berupa spanduk berisi ajakan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Pesan-pesan tersebut menjadi pengingat bahwa iman juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk merawat bumi.

Penggagas kegiatan, Pdt Raditya Wisnu Pratama, menegaskan bahwa ibadah bukanlah sekadar pertunjukan, melainkan bentuk penghayatan iman yang mendalam. Menurutnya, konsep pertobatan ekologis menjadi relevan di tengah kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan.

Ibadah Jumat Agung Bernuansa Alam, GKJ Karangdowo Angkat Tema Pertobatan Ekologis di Gunung Wijil
Ibadah Jumat Agung Bernuansa Alam, GKJ Karangdowo Angkat Tema Pertobatan Ekologis di Gunung Wijil

Baca Juga: Status Awas, Gunung Semeru Erupsi dan Keluarkan Awan Panas: 300 Warga Dievakuasi

Ia menjelaskan bahwa salib melambangkan perjuangan dan kasih Yesus Kristus yang menyatukan seluruh ciptaan. Dalam peristiwa penyaliban, tergambar bagaimana Allah hadir di tengah manusia yang rapuh, tanpa memandang latar belakang, status sosial, maupun perbedaan lainnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai pengorbanan Kristus seharusnya mendorong manusia untuk menghapus diskriminasi, baik yang berbasis sosial maupun gender. Selain itu, manusia juga diingatkan untuk tidak lagi melakukan eksploitasi terhadap alam secara berlebihan.

“Pertobatan ekologis adalah bentuk kesadaran untuk memikul tanggung jawab menjaga ciptaan Tuhan. Ini merupakan wujud nyata dari iman yang membawa harapan,” ungkapnya.

Baca Juga: UMBY Perkuat Kemampuan Digital Balai Taman Nasional Gunung Palung Lewat Pelatihan Produksi Konten

Perayaan ini juga menjadi bagian dari rangkaian masa Pra-Paskah yang dijalani umat Kristiani. Dimulai dari Rabu Abu, kemudian Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, hingga puncaknya pada perayaan Paskah di hari Minggu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Afriadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X