TITIKTEMU.CO, Sosok Dewi Cholidatul Ummah bisa dikatakan seperti seorang petualang. Penulis yang mantan jurnalis ini pernah melakukan penelitian soal kampung adat di Jawa barat, dan kepesertaan di Gerakan Literasi Nasional membuat masuk radar beberapa juri dan catatan Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia untuk diundang mengikuti Residensi Penulisan di daerah 3T.
Dengan semangat , penulis yang kini tinggal di Yogyakarta ini semangat berangkat dan tinggal di Nias selama tiga minggu lamanya. Bagi Dewi setiap detik di Nias adalah pengalaman baru dan menarik.
Bagaimana ia melakukan perjalanan ke Pulau Tello sampai muntah-muntah karena gelombang lautnyanya. Ditolak masuk ke pulau pulau yang dikelola asing, karena tidak reservasi terlebih dahulu merupakan salah satu pengalamannya yang berharga.
Baca Juga: Penulis Purwokerto Sulung Haryanto Rela Tinggal Di Papua Untuk Novel Remajanya
Namun melihat harta Karun megalitikum berupa batu-batu besar yang bertebaran seperti film kartun The Flintstones adalah pengalamannya paling seru.
Ini pula yang menginspirasi penulis penggemar buku petualangan Tom Sawyer karya Mark Twain, dan The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway menulis novelnya sendiri yang diangkat dari budaya lokal di Nias.
Salah satu novel Dewi bercerita tentang seorang anak pelaku tawuran yang dihukum oleh ibunya untuk menjadi relawan di museum lokal.
Baca Juga: Cerita Desi Pupitasari , Penulis Yogya Yang Mengejar Isu Sepakbola Di Merauke
Di museum, karena jengkel dihulum , secara serampangan ia memakai kalung zaman kakeknya hidup. Namun dia terperangkap mengalami perjalanan waktu ke masa tahun 1942, saat terjadi perang kedua. Di sana dia belajar tentang sulitnya mengumpulkan orang-orang lokal untuk bersatu.
Penasaran kelanjutannya ? Tenang saja , buku-buku karya Dewi ini bisa dinikmati remaja awal tahun depan di link yang disediakan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra.