TITIKTEMU.CO, - Salat Idul Fitri dan Idul Adha adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan tetapi tidak wajib) dan Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya.
Salat Id tidak disyaratkan dilaksanakan di Masjid, tetapi bisa dilakukan di lapangan terbuka sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Salat Id baik di masjid maupun di lapangan tidak menentukan yang lebih afdhal, yang penting adalah keberhasilan berkumpulnya umat Muslim dalam menyatakan rasa syukur kepada Allah SWT.
Baca Juga: Daftar Lokasi Salat Idul Adha di Kulonprogo, Rabu 28 Juni 2023. Lengkap dengan Imam dan Khatib
Imam As-Syaukani berkata: "Ketahuilah bahwasanya Nabi SAW terus-menerus mengerjakan dua salat Id ini dan tidak pernah meninggalkannya satu pun dari beberapa Id. Nabi memerintahkan umatnya untuk keluar padanya, hingga menyuruh wanita, gadis-gadis pingitan dan wanita yang haid.”
“Beliau menyuruh wanita-wanita yang haid agar menjauhi salat dan menyaksikan kebaikan serta panggilan kaum muslimin. Bahkan beliau menyuruh wanita yang tidak mempunyai jilbab agar saudaranya meminjamkan jilbabnya.”
Dikutip dari laman NU, HM Cholil Nafis MA Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU menekankan, fokus utama dalam hukum salat Id adalah berkumpulnya masyarakat untuk menyatakan kemenangan, kebahagiaan, dan kebersamaan di hari raya.
Baca Juga: Tim U-19 Wanita Sumbang Hewan Kurban di Palembang
“Melaksanakan salat Id baik di masjid maupun di lapangan tidak menentukan yang lebih afdhal, yang penting adalah keberhasilan berkumpulnya umat Muslim dalam menyatakan rasa syukur kepada Allah SWT,” tulis HM Cholil Nafis.
Salat Id tidak disyaratkan harus dilaksanakan di Masjid. Bahkan menurut pendapat Imam Malik salat Id juga baik dilaksanakan di lapangan terbuka. Karena Nabi Muhammad SAW juga melakukan salat Id di lapangan kecuali karena ada hujan atau penghalang lainnya.
Adapun perbedaan di antara tanah lapang dengan masjid bahwa tanah lapang berada di tempat terbuka, sedangkan masjid berada di dalam sebuah tempat (bangunan) yang tertutup.
Baca Juga: Tata Cara Sholat Idul Adha Berikut Bacaan Niatnya dan Amalan Sunahnya
عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِي رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى. فَأَوَّلُ شَيْئٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَة، ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَ النَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ، فَيَعِظُهُمْ وَ يُوْصِيْهِمْ وَ يَأْمُرُهُمْ. فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أَوْ يَأْمُرُ بِشَيْئٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ
“Dari Abi Sa'id Al-Khudri RA, ia berkata: "Rasulullah SAW biasa keluar menuju mushalla (tanah lapang/lapangan) pada hari Idul Fitri dan Adha. Hal pertama yang beliau lakukan adalah salat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia, di mana mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau memberi pelajaran, wasiat, dan perintah. Jika beliau ingin mengutus satu utusan, maka (beliau) memutuskannya. Atau bila beliau ingin memerintahkan sesuatu, maka beliau memerintahkannya dan kemudian berpaling ...." (HR. Bukhari 2/259-260, Muslim 3/20, Nasa`i 1/234; )