TITIKTEMU.CO - Di sebuah rumah kecil di Kelurahan Mankujayan, Ponorogo, Jawa Timur, tersimpan kisah luar biasa dari seorang remaja bernama Avan Ferdiansyah Hilmi.
Meski berasal dari keluarga penjual es keliling, Avan berhasil diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Saat dosen ITB datang untuk memverifikasi kondisi keluarganya, mereka dibuat terpukau oleh ratusan piala yang menghiasi hampir seluruh sudut ruang tamu.
“Kirain toko piala,” celetuk salah satu dosen, tak percaya dengan banyaknya trofi yang dimiliki Avan.
Baca Juga: Dari Geologi ITB ke Kantor PBB di Budapest, Ini Perjalanan Karier Inspiratif Eka Nurmuzaki
Koleksi Lebih dari 100 Piala Sejak Sebelum Masuk SD
Sejak usia dini, Avan sudah menunjukkan minat tinggi pada dunia ilmu pengetahuan.
Bahkan sebelum masuk SD, ia sudah aktif ikut lomba akademik dan langsung menjadi juara dalam kompetisi di sebuah mal di Madiun.
Sejak itu, hampir setiap bulan ia mengikuti lomba—bahkan hingga dua kali dalam sebulan.
Lemari sederhana di ruang tamu keluarganya kini penuh sesak dengan piala dan trofi dari berbagai ajang, termasuk Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kebumian yang diselenggarakan oleh ITB sendiri.
Belajar Otodidak dengan Poster dan Buku Favorit
Avan tidak tumbuh di tengah fasilitas belajar yang lengkap. Ia belajar membaca dan berhitung secara mandiri hanya dari poster abjad dan angka yang ditempel di rumah.
Orang tuanya bahkan rela membeli buku-buku seri edukatif seperti Why? meskipun harganya cukup mahal bagi penghasilan mereka.
“Karena dia suka baca, kami belikan walau harganya Rp 100 ribu lebih,” tutur sang ibu, Umi Latifah.