pendidikan

Khutbah Jumat : 3 Persiapan di Bulan Sya’ban, Menyambut Bulan Ramadhan

Jumat, 7 Februari 2025 | 11:00 WIB
Ilustrasi Syaban (Wallpaper Straits Mosque)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah Namun, di antara tiga hal tadi yang lebih utama kita persiapkan di bulan Sya’ban ini adalah keimanan dan ketauhidan kepada Allah. Sebab, pada praktiknya, kekurangsiapan dalam dua hal, yaitu kesehatan dan perbekalan, akan terkalahkan oleh kekuatan iman.

Contoh kecil, walau badan kurang begitu sehat dan perbekalan kurang begitu memadai, tetapi keimanan sangat kuat, maka kita akan tetap istiqamah menjalankan ibadah Ramadhan. Makanya tak berlebihan jika dalam kesempatan yang singkat ini, khatib mengetengahkan bagaimana cara memperkuat keimanan di bulan Syaban ini.

Dalam kaitan ini, kita tentu bisa melacak bagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW, antara lain adalah: Pertama, bertobat dan membersihkan diri. Layaknya kita akan kedatangan tamu agung nan terhormat, maka hendaknya kita berbenah dan menjaga kebersihan. Begitu pun saat akan kedatangan bulan Ramadhan yang mulia. Sepantasnya kita membersihkan diri, lahir dan batin. Termasuk membersihkan diri dari berbagai dosa dan segala yang mengotori hati. As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban, hal. 57, menyebutkan salah satu bentuk tobat dan membersihkan diri adalah membaca istighfar, terutama pada malam nisfu Sya’ban, malam istimewa bagi para pencari rahmat dan ampunan.

Menurutnya, istigfar tak hanya sekadar membersihkan diri, tetapi juga menjadi penarik rezeki dan penghapus kesulitan. Hal itu seperti yang diungkap Rasulullah SAW:

Baca Juga: Naskah Khutbah Jumat Bulan Rajab 1446 H/2025 M, Tema: Memaksimalkan Ibadah di Bulan Rajab

مَنْ لَزِمَ الْاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حيْثُ لَا يَحْتَسِبُ 

Artinya, “Siapa saja yang membiasakan istigfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar atas segala kesempitannya, memberikan kelapangan atas segala kesusahannya, serta memberinya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka,” (HR. Abu Dawud).

Kedua, memperbanyak puasa sunnah. Amalan ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang pernah dikisahkan oleh Sayyidah ‘Aisyah dimana beliau senantiasa berpuasa hingga dikira tidak berbuka. Dan Sayyidah ‘Aisyah tidak melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban. Demikian sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.  Tatkala ditanya, “Puasa apakah yang paling utama setelah Ramadhan?”

Beliau menjawab:

شَعْبَانَ لِتَعْظِيْمِ رَمَضَانَ

Artinya, “(Puasa) Sya’ban demi mengagungkan Ramadhan,” (HR. At-Tirmidzi). 

Baca Juga: Khutbah Jumat : Momentum Akhir Tahun, Jangan Lupa Tobat

Dan alasan yang cukup krusial mengapa Rasulullah memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban adalah diangkatnya atau dilaporkannya amal kepada Allah. Hal itu seperti yang disabdakannya secara langsung: 

فَذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ شَهْرِ رَجَبٍ وَشَهْرِ رَمَضَانَ، تُرْفَعُ فِيهِ أَعْمَالُ النَّاسِ، فَأُحِبُّ أَنْ لَا يُرْفَعَ عَمَلِي إِلَّا وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya, “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh orang-orang. Padahal bulan ini berada di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan di mana amal-amalan manusia diangkat kepada Allah. Dan aku ingin, tidaklah amalku diangkat kecuali sedang berpuasa,” (HR. An-Nasa’i). 

Halaman:

Tags

Terkini