Sekretaris Jenderal Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani, memberikan apresiasi atas program ini.
Ia menekankan pentingnya kemampuan bahasa Inggris sebagai salah satu syarat utama bagi siapa saja yang ingin mendapatkan beasiswa.
“Program ini sangat penting untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga besar Kemenag dalam mencapai skor TOEFL ITP yang dibutuhkan.
Baca Juga: Sophie Kirana, Alumni FEB UGM Tembus Top 5 Miss International 2024
Dari hasil pemetaan ini, kita bisa merancang program penguatan bahasa yang lebih tepat sasaran,” kata Ramdhani di Jakarta (17/12/2024).
Lebih jauh, Ramdhani menyatakan keyakinannya pada pengalaman IIEF dalam membantu meningkatkan keterampilan bahasa Inggris para peserta.
Hal ini diharapkan bisa menciptakan generasi penerima beasiswa yang kompeten untuk berbagai program, seperti Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), Dana Abadi Pesantren, dan lainnya.
Tantangan dan Harapan Baru
Kepala Puspenma, Ruchman Basori, menjelaskan bahwa program ini menjadi langkah awal untuk menyiapkan calon penerima beasiswa yang siap bersaing.
Menurutnya, salah satu tantangan utama selama ini adalah rendahnya skor TOEFL ITP peserta, yang sering menjadi kendala dalam proses seleksi.
“Kami bersama IIEF berkomitmen untuk memetakan kemampuan bahasa Inggris ini secara menyeluruh. Ke depan, kami juga akan menggandeng Pusat Pengembangan Bahasa di berbagai kampus untuk menyelenggarakan program penguatan bahasa Inggris dan Arab,” ujar Ruchman.
Ia juga menyampaikan harapannya agar tahun 2025 bisa menjadi awal baru dengan dibukanya kembali rekrutmen penerima beasiswa, setelah absen di tahun 2024.
Jumlah Peserta: Gambaran Besar Potensi