TITIKTEMU.CO - Kabupaten Temanggung selama ini memang belum sepopuler destinasi wisata lain di Jawa Tengah. Tidak ada pantai,tidak ada laut, tapi memiliki panorama alam luar biasa indah.
Kota kabupaten ini diapit dua gunung megah, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Kombinasi lanskap pegunungan ini membuat banyak sudut Temanggung menyimpan potensi wisata yang menakjubkan,.
Salah satunya adalah Glapansari, sebuah desa di Kecamatan Parakan, produsen tembakau terbesar di kabupaten ini. Berada di ketinggian 1000mdpl dengan udara super sejuk.
Baca Juga: Nggak Bakal Nyesel, Ini 7 Bakpia Jogja Paling Cocok untuk Lidah Wisatawan
Hiden Gem
Di bawah kaki Gunung Sumbing ini, wisatawan dapat melihat hamparan lahan yang luas bersatu dengan sejuknya angin. Hijaunya tanaman tembakau memanjakan keindahan alam Glapansari.
Memang, selama ini wisatawan lebih mengenal destinasi wisata populer seperti Posong dan Embung Kledung. Glapansari hidden gem yang belum tereksplorasi.
Berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat kota, akses menuju desa wisata Glapansari relatif mudah. Karena itu, desa wisata ini sebenarnya cukup potensial menjadi destinasi wisata unggulan.
Baca Juga: Lasem Rembang, Destinasi Wisata Penuh Sejarah, Sekadar untuk Singgah atau Menetap?
Mirip Pedesaan di Swiss
Setibanya di kawasan ini, pengunjung akan disuguhkan pemandangan alam yang masih sangat asri. Hamparan kebun tembakau hijau membentang luas di sisi kiri dan kanan jalan.
Di kejauhan, siluet Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing tampak berdiri gagah, menciptakan lanskap yang sering disebut-sebut mirip pedesaan di Swiss.
Keindahan ini terasa semakin istimewa karena suasana di Glapansari masih sangat alami. Belum banyak wisatawan yang datang, sehingga suasana tenang dan sejuk masih sangat terjaga.
Tidak ada tiket masuk maupun pungutan liar, menjadikan tempat ini cocok bagi pencari ketenangan. Meski fasilitas di kawasan ini masih sangat terbatas. Pengunjung disarankan membawa bekal sendiri.
Artikel Terkait
Salatiga, Kota 'Selow' yang Cocok untuk Slow Living, Ini Alasannya
Tak Ada Kehidupan Setelah Isya di Purworejo: Kota yang Mengajarkan Slow Living yang Sebenarnya
Slow Living di Gunungkidul Memang Menyenangkan, Syaratnya: Lupakan Gaya Necis ala Kota
Desa Wotawati Gunungkidul Viral: Matahari Terbit Jam 8 Pagi, Tenggelam Jam 3 Sore
Sisi Lain Salatiga di Balik Kenyamanannya, Bakal Gantikan Jogja sebagai Kota Slow Living?