“Masih banyak hal yang perlu kami tingkatkan, baik secara individu maupun tim,” kata Moriyasu, dikutip dari Kyodo News pada Rabu, 11 Juni 2025.
Bahkan Jepang tetap melakukan rotasi pemain dan memberikan ban kapten kepada Takefusa Kubo sebagai bagian dari upaya regenerasi dan pembentukan karakter tim.
Sikap rendah hati ini, menurut Bepe, seharusnya menjadi cermin bagi publik Indonesia agar tidak sekadar larut dalam amarah tanpa perbaikan.
Patrick Kluivert: Jepang Punya Level Dunia, Indonesia Harus Belajar
Pelatih Timnas Indonesia saat itu, Patrick Kluivert, juga tak menampik kualitas lawan.
Dalam konferensi pers seusai laga di Stadion Suita, Osaka, ia mengakui bahwa Jepang tampil di level berbeda.
Baca Juga: Wahana Rainbow Slide Ambruk di Pasar Malam Ketapang, Polisi Tutup Lokasi dan Selidiki Penyebabnya
“Beberapa menit awal kami bermain baik, tapi Jepang punya kualitas. Mereka tim level Piala Dunia,” kata Kluivert pada 10 Juni 2025.
Meski kecewa, Kluivert menilai kekalahan tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.
“Kami harus belajar dari situasi ini. Jepang pantas menang, dan kami perlu memperbaiki banyak hal,” ujarnya.
Pelajaran untuk Pecinta Sepak Bola Tanah Air
Kisah kegagalan Garuda kali ini bukan sekadar soal hasil pertandingan, tapi tentang mentalitas bangsa menghadapi kekalahan.
Bambang Pamungkas mengajak publik agar berhenti mencari kambing hitam dan mulai memperkuat fondasi sistemik sepak bola nasional.
Baca Juga: Kontroversi Proyek Kereta Cepat Whoosh: Dari Skema Jepang ke China, Siapa yang Tanggung Beban Utang?
Sementara itu, Jepang yang sudah langganan Piala Dunia tetap mencontohkan bahwa kemenangan pun perlu disikapi dengan rendah hati dan refleksi.
“Jangan hanya ngoceh di medsos, tapi ikut membangun suasana positif untuk pembenahan sepak bola kita,” demikian pesan Bepe yang kini kembali viral di kalangan warganet.
Kegagalan Timnas Indonesia di Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momentum introspeksi bersama, bukan sekadar bahan hujatan.
Karena seperti kata Bepe, “kemenangan besar selalu dimulai dari pembelajaran atas kekalahan.” ***
Artikel Terkait
Mahfud MD Nilai Permintaan KPK Soal Laporan Dugaan Mark Up Proyek Whoosh Sebagai Langkah Aneh
Kontroversi Proyek Kereta Cepat Whoosh: Dari Skema Jepang ke China, Siapa yang Tanggung Beban Utang?
Wahana Rainbow Slide Ambruk di Pasar Malam Ketapang, Polisi Tutup Lokasi dan Selidiki Penyebabnya
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Klaim Ekonomi RI Mulai Pulih, Tapi Pengangguran Muda Masih Tinggi
KH. Anwar Manshur, Sosok Teduh di Balik Lirboyo: Ulama Lintas Generasi yang Tetap Menjaga Tradisi Salaf