Akhirnya ia nekat ke Medan, untuk selanjutnya pergi ke Jakarta. Berbekal uang Rp 55 ribu, ia nekat merantau ke Jakarta. Rp 5 ribu dipakai untuk makan tiga hari. "Saat itu 500 rupiah sudah bisa beli nasi Padang," ungkapnya.
Sayangnya di Jakata, ia ditolak oleh anak opungnya, Bapak Uda. "Ngapain tamat SMA ke jakarta, sarjana saja nggangur, kata Bapak Uda. Ini pukulan berat buat saya," ungkap Kamaruddin.
Baca Juga: Menikmati wisata Bandung, Inginnya Mau Lagi dan lagi. Ini 9 Tempat Wisata di Bandung Pilihan!
Dua sampai tiga minggu kemudian, ia menyabarkan dirinya ikut numpang di rumah anak opungnya itu. Lantas saudaranya itu, menyatakan pada Kamaruddin, apalah dia mau berdagang karena penghasilannya yang besar.
Kemudian ia dikenalkan kepada pedagang tersebut. Yang ternyata tinggal di kontrakan dengan gang-gang kecil, yang sebenarnya kurang layak dihuni di daerah Kebon Singkong, Klender, Jakarta. Ini kawasan kriminal. Prostitusi ada disini, juga transaksi narkoba.
"Kontrakannya berupa gubuk yang tidak ada toiletnya," paparnya. Pedagang itu juga punya anak kecil, saudaranya juga ikut tingal disitu. Kamar hanya disekat dengan gorden.
Menurutnya, tidak etis tidur bersama anak gadis. "Saya merasa tidak etis numpang disana. Saya lantas memutuskan tinggal di kolong jembatan Klender,"
ungkapnya.
Ia merasa paling kaya raya, karena lewat mobil mewah di atas kolong jembatan itu, ucapnya untuk menghibur diri.
Baca Juga: Kerja bagaikan Kuda, Pinkan Mambo Kerja sampe 20 jam
Jelas bukan kehidupan yang menyenanangkan, saat ia terpaksa tinggal di kolong jembatan Klender, Jakarta. "Saya digerayangi bencong di malam hari," ceritanya.
Demi keamanan, dompet ia titipkan ke tukang sayur. Mencuci baju stasiun klender Rp 500, mandi Rp 200. Saat dijemur di pinggir rel, bajunya hilang karena sudah diloakkan orang lain, sehingga ia tidak punya baju.
Baju tersebut mau diambil di loakan, ia malah diancam dibunuh tukang loak itu, karena dia sudah membeli baju itu. Untuk cari uang, ia lantas jualan dompet. Selusin Rp 3 ribu. Untung Rp 1.250 dari hasil penjualan dompet di pinngir jalan itu.
Namun saat Presiden Soeharto mau melewati jalan tersebut, kawasan itu ditertibkan aparat. Kamaruddin mencoba melawan petugas, namun ia malah ditangkap polisi dan ditahan di kantor polisi Pulogadung, Jakarta.
Sebagai perantau, ia tidak punya KTP. Saat di kantor polisi, ia pernah dibuat drop mentalnya. Ia diminta berdiri di dinding dan ditembak di samping tubuhnya. Ia diperlakukan seperti patung, yang bebas ditembak sekehendak polisi itu.