nasional

Pakar Keamanan Siber Ungkap Modus Peretasan Awak Redaksi Narasi & Cara Terhindar dari Peretasan

Selasa, 27 September 2022 | 07:06 WIB
Dok. logo Narasi (pic. youtube narasi newsroom)

TITIKTEMU.CO SEMARANG - Modus peretasan dan pengambilalihan nomor seluler sejumlah awak redaksi Narasi di Jakarta menjadi bahan perbincangan publik.

Pakar keamanan siber mengungkap modus  peretasan awak redaksi perusahaan media yang didirikan presenter kondang Najwa Shibab itu.

Baca Juga: Tetapkan 5 Tersangka, Kejaksaan Agung Targetkan Kelengkapan Berkas Kasus Brigadir J Selesai Pekan Ini

Baca Juga: Kapolda Jateng: Belum diketahui kenapa paket itu bisa dibawa Bripka Dirgantara

Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC Dr Pratama Persadha mengungkap modus peretasan antara lain dilakukan dengan malware (perangkat lunak berbahaya) dan mengakses kode verifikasi sekali pakai OTP.

Dilansir TITIKTEMU.CO dari Antara, pakar keamanan siber itu mengatakan peretasan tersebut bisa dengan cara mengakses one time password (OTP) atau sistem pengamanan akun berupa kata sandi (password) yang bersifat sekali pakai.

Baca Juga: 5 Kesalahan dalam Penggunaan Kosmetik Make Up yang Dapat Membuat Kerusakaan Kulit

Pratama menjelaskan cara mengakses OTP melalui beberapa cara, yakni: pertama, dengan memalsukan identitas, lalu membuat SIM card di provider; kedua, mengakses OTP lewat akses provider telekomunikasi.

Secara teknis, kata dia, memang memungkinkan tindakan peretasan ke sejumlah aset digital seseorang, seperti media sosial dan aplikasi pesan instan. Adapun cara paling mudah adalah memalsukan dokumen kartu tanda penduduk (KTP) dan datang ke kantor cabang provider telekomunikasi untuk meminta pergantian SIM card.

"Mereka bisa mengaku sebagai pemilik nomor dengan memalsukan KTP sesuai dengan registrasi terdaftar tadi. Ini sangat memungkinkan karena ada data bocor registrasi SIM card sebelumnya, jadi bisa digunakan," kata Pratama.

Baca Juga: Sadis, dicuekin di jejaring sosial, ibu muda ini ditusuk kenalan Facebook-nya

Selain itu, lanjutnya, pelaku peretasan juga bisa melakukan akses terhadap OTP provider telekomunikasi dengan bantuan layanan pihak ketiga. Adapun tujuannya ialah untuk memperoleh OTP yang dikirimkan setelah ada permintaan (request) dari aplikasi.

Dengan demikian, katanya, pelaku tidak perlu mengirimkan pesan penipuan untuk meminta OTP kepada target. Hal ini sering dilakukan oleh para penipu dengan mengaku  sebagai kasir minimarket dan meminta OTP.

Pratama mengaku pernah menjadi korban peretasan Telegram dan WhatsApp. Jadi, OTP yang harusnya masuk ke perangkat (device) Pratama diambil oleh pelaku terlebih dahulu dan tidak masuk ke perangkatnya.

Halaman:

Tags

Terkini