Selanjutnya Raden Aria Wangsakara, dari Banten Raden Aria Wangsakara lahir di Sumedang tahun 1615. Wangsakara bukan hanya tokoh keagamaan dalam Kesultanan Banten pada masanya.
Baca Juga: Paxlovid Obat Oral Covid-19 Buatan Pfizer Diklaim Efektif 89 Persen Melawan Virus Vorona
Akan tetapi juga tokoh politik dan pemimpin militer yang terus berjuang dalam semangat untuk mengusir penjajah.
Latar belakang perjuangannya semasa Kesultanan Banten, Sultan Abul Mufakhir dan Sultan Ageng Tirtayasa, Wangsakara adalah sosok yang turut memainkan peranan penting dalam melawan VOC
Pada 1636 saat naik Haji di Mekah, Wangsakara berhasil memperoleh surat pengakuan Banten oleh Syarif Mekah sebagai kepanjangan tangan dari otoritas politik Turki Utsmani (Ottoman).
Baca Juga: Bung Tomo, Pengobar Semangat Pertempuran 10 November di Surabaya
Sekembalinya ke Banten, Wangsakara diberi gelar Kiai Mas Haji Wasangraja. Tahun 1654 ketika terjadi peperangan di Batavia antara Kesultanan Banten dengan VOC.
Raden Aria Wangsakara mewakili Kesultanan Banten sebagai juru runding yang membuahkan kesepakatan penghentian perang. Daerah yang dikuasai masing-masing tetap dipertahankan.
Tahun 1658-1659 ketika terjadi peperangan, Raden Aria Wangsakara mendapat mandat dari Sultan Ageng Tirtayasa untuk memimpin perang melawan VOC yang berujung pada perjanjian damai pada 5 Juli 1659.
Baca Juga: Ini Jadwal Tes Psikologi Calon Karyawan PT KAI Yogyakarta Mulai 11 November, Jangan Kelewat
Pascaperang, Wangsakara mengubah strategi pertahanan dengan membuat permukiman dan kanal sehingga menjangkau daerah Tangerang pedalaman.
Wangsakara wafat pada tanggal 15 Agustus 1681 dan dimakamkan di Lengkong, Pagedangan, Tangerang atau Taman Makam Pahlawan Kabupaten Tangerang.
Kemudaian ada Tombolotutu, dari Sulawesi Tengah, Tombolotutu lahir di Moutong, Sulawesi Tengah, pada tahun 1857. Adalah tokoh yang sedari awal menentang penindasan Belanda di Moutong.
Baca Juga: 4 Film Baru Tayang di Bioskop Minggu Ini, Dari Marvel Studios Hingga James Bond, Cuss….
Tombolotutu memimpin dan memperjuangkan hak-hak rakyat Moutong yang dirampas sehingga terjadi pertempuran yang tidak hanya banyak memakan korban namun juga kerugian materiil.