Dwikorita membeberkan, dipilihnya Cilacap sebagai tempat peluncuran inovasi teranyar BMKG tersebut karena pusat perekonomian dan pemerintahan di kabupaten ini berada di pesisir pantai.
Sedangkan jarak evakuasi menuju tempat yang relatif aman cukup jauh, sehingga cukup memakan waktu.
Baca Juga: Mau Buka Kedai Kopi? Kenali 7 Seduhan Manual Brewing Ini
Selain itu di Cilacap juga terdapat berbagai objek vital nasional dan strategis di antaranya Kilang Minyak Pertamina, Pembangkit Listrik Tenaga Uap, dan pabrik semen Dynamix.
“Berdasarkan pemodelan, potensi ketinggian tsunami berkisar belasan meter dengan estimasi kedatangan tsunami sekitar 50 menit. Namun, karena wilayah pesisir Cilacap sangat padat penduduk maka butuh waktu lebih untuk proses evakuasi. Terlebih tempat evakuasi cukup jauh sekitar 2 hingga 4 kilometer,” tambah Dwikorita.
Kepala BMKG mengharapkan keberadaan EWS Broadcaster dan SIRITA ini dapat meminimalisir jumlah korban jiwa jika sewaktu-waktu gempa bumi dan tsunami menerjang selatan Pulau Jawa.
Baca Juga: Covid-19 Masih Ada, Ini yang Terjadi Jika Kita Tidak Pakai Masker
Dwikorita menyebut bahwa penggunaan teknologi digital dan aplikasi yang terkoneksi satu sama lain akan meningkatkan efektivitas sistem peringatan dini yang dikeluarkan, karena dapat menghindarkan dari terputusnya rantai alur informasi peringatan dini dari BMKG kepada masyarakat.
Dwikorita mengungkapkan, keterbatasan jaringan komunikasi kerap menjadi salah satu kendala saat penyebaran peringatan dini, karena tidak jarang jaringan komunikasi selular mengalami gangguan usai gempa merusak.
Kendala inilah yang coba BMKG pecahkan dengan meluncurkan EWS Broadcaster dan SIRITA.
“Khusus SIRITA, handphone yang menginstal aplikasi SIRITA akan berbunyi keras layaknya sirine apabila BMKG mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi tsunami. Jadi, kendala seperti tidak tersampaikannya peringatan dini kepada masyarakat bisa diminimalisir. Pun, akibat jauhnya tempat tinggal dengan lokasi sirine karena sifat handphone yang sangat personal,” terangnya.
“Bunyi sirine yang keluar dari handphone didefinisikan sebagai perintah untuk segera melakukan evakuasi, mencari dataran tinggi atau tempat-tempat yang lebih tinggi guna menghindari terjangan tsunami,” tambah dia.
Dwikorita menegaskan publikasi mengenai potensi gempa bumi dan tsunami yang sering disebarluaskan BMKG bukan untuk menakuti-nakuti masyarakat.
Baca Juga: Pertunjukan Film di Bioskop Dibuka, Harapan Pulihnya Industri Perfilman Nasional