nasional

WASPADA BAHAYA CUACA PANAS EKSTREM BAGI ANAK Oleh Ramadhan Wibisono

Rabu, 31 Mei 2023 | 07:00 WIB
Pyensi dampak perubahan iklim pada berbagai sektor (Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan)

WASPADA BAYA CUACA PANAS BAGI ANAK

Oleh: Ramadhan Wibisono, News Producer INDOSIAR SCTV

“Ayah panas banget gak sih hari ini?”, tanya istri saya di rumah yang merasakan udara lebih panas dari biasanya. “Iya Bunda, hari ini panas banget ya, gak seperti biasanya”, jawab saya sambil bersiap menuju tempat kerja pagi itu menjelang siang. Sejak menikah tahun 2014, saya menempati rumah orang tua istri alias menumpang rumah mertua di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Setibanya di tempat kerja wilayah Jakarta Selatan, saya iseng mencari tahu dengan google kondisi cuaca. Mengutip data Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), Ciputat mencatat suhu maksimum harian tertinggi pada tanggal 17 April 2023, mencapai 37,2 derajat Celsius. Bahkan suhu tersebut menjadi tertinggi harian atau maksimum yang tercatat dibanding kota-kota lain di Indonesia sampai 20 April 2023.

Baca Juga: Piala FA: Empat pemain kunci Manchester City diragukan bisa tampil di final, ini proyeksi skuad Pep Guardiola

Indonesia beberapa hari terakhir dilanda cuaca panas ekstrem. Begitu pula, negara-negara di Asia seperti Bangladesh, Myanmar, India, China, Thailand, dan Laos telah melaporkan kejadian suhu panas lebih dari 40 derajat Celcius. Meskipun tidak mengalami heatwave atau gelombang panas seperti di Bangladesh dan India, suhu maksimum udara permukaan di Indonesia tergolong panas.

Berdasarkan penjelasan BMKG, ada beberapa faktor penyebab suhu di Indonesia panas tidak biasa di antaranya dominasi monsun Australia yang berarti Indonesia masuk musim kemarau. Selain itu, tren pemanasan global dan perubahan iklim yang dipengaruhi intensitas maksimum radiasi matahari pada kondisi cuaca cerah dan kurangnya tutupan awan juga memicu suhu panas di Tanah Air yang tidak seperti biasanya.

Baca Juga: Cerbung: BUNGA MERAH JAMBU -- 52 By Masdaraimunda (TAMAT)

Menurut Siswanto, Subkoordinator Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, perubahan iklim adalah perubahan suhu dan pola cuaca jangka panjang secara alami ataupun karena aktivitas manusia, terutama karena pembakaran bahan bakar fosil (misalnya batu bara, minyak, dan gas) sehingga menghasilkan gas rumah kaca (GRK) yang memerangkap panas.

Sedangkan cuaca ekstrem adalah keadaaan atmosfer pada skala waktu dan luas tertentu menyimpang dari kondisi normal. Sementara pemanasan global adalah kondisi peningkatan suhu permukaan bumi dalam jangka panjang di banyak tempat yang disebabkan aktivitas manusia terutama pembakaran bahan bakar fosil hingga meningkatkan kadar gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer bumi.

Baca Juga: Link Download dan Makna Logo Peringatan Hari Lahir Pancasila 2023,

“Perubahan suhu udara ekstrem di Indonesia diduga kuat karena penebalan gas emisi rumah kaca meski belum mengakibatkan gelombang panas atau heatwave. BMKG bersama para ilmuwan memprediksi suhu di bumi berpotensi menembus ambang batas 1,5 derajat Celcius hingga 2027. Peluang itu meningkat karena emisi dari aktivitas manusia ditambah kemungkinan El Nino atau pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normal pada akhir 2023,” ujar Siswanto dalam workshop jurnalistik yang digelar Lembaga Anak Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), UNICEF, bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Jakarta, 20 Mei 2023.

Perubahan iklim, termasuk suhu panas ekstrem, berpotensi menimbulkan bencana di Indonesia di antaranya banjir, longsor, dan ombak laut meningkat. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, perubahan iklim turut menimbulkan dampak pada berbagai sektor mulai dari gangguan kesehatan dan gagal panen yang mengancam ketahanan pangan hingga hilangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan ekosistem.

Baca Juga: Jangan Terkecoh, Begini Cara Membedakan Madu Asli dan Palsu

 

Halaman:

Tags

Terkini