TITIKTEMU.CO
Siapa pun yang datang ke Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah pasti takjub dengan kemegahannya. Keduanya adalah tempat suci yang menjadi tujuan utama umat islam seluruh dunia melaksanakan ibadah haji dan umrah.
Di Masjidil Haram terdapat Kabah yang menjadi kiblat shalat, sementara di Masjid Nabawi terdapat makam Nabi Muhammad SAW. Keduanya bangunan yang menakjubkan. Lantai marmer kedua bangunan itu bahkan luar biasa.
Betapa tidak, di tengah cuaca panas Mekah dan Madinah, lantai marmer putih kristal di area tawaf Kabah (mataf) selalu terasa dingin. Kaki jemaah haji dan umrah yang tawaf mengelilingi Kabah tidak sedikitpun kepanasan, meski suhu ekstrim Kota Makkah mencapai 50 derajat.
Baca Juga: Arab Saudi Cabut Larangan Terbang Langsung. Sudah Boleh Umrah?
Kisah di balik pembangunan kedua masjid bersejarah bagi umat Islam ini ditulis Zaghloul El-Naggar, pakar geologi sekaligus penulis .
Adalah Muhammad Kamal Ismaeel (1908-2008), insinyur dan arsitek Mesir yang lebih suka menjauh dari perhatian publik. Dia adalah insinyur pertama yang melakukan perencanaan mengeksekusi proyek perluasan Masjidil Haramain (Mekkah dan Madinah) atas permintaan Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud.
Lantai Masjidil Haram dan Nabawi itu terbuat dari marmer khusus yang didatangkan langsung dari Thassos, sebuah pulai kecil di wilayah utara Yunani. Nama wilayah itu kemudian menjadi nama marmer tersebut, yaitu marmer Thassos.
Wilayah Thassos memiliki luas 380 kilometer persegi. Sejak berabad-abad lamanya, marmer putih dari pulai ini digunakan orang-orang Romawi. Bentuknya pun istimewa; putih kristal.
Baca Juga: Sertifikat Vaksin Sinovac Belum Mendapat Rekomendasi Umroh. Ini Solusinya
Nah, Muhammad Kamal Ismaeel menuju Yunani, dan membeli marmer untuk Masjidil Haram (marbling), hampir setengah dari gunung marmer. Setelah marmer tiba di Mekkah, ia memulai proyeknya.
Khusus untuk lantai Masjidil Haram, marmer Thassos didatangkan masih dalam bentuk bongkahan batu. Batuan itu diolah dan dibentuk di Arab Saudi.
Marmer dipotong persegi panjang dengan ketebalan 5 centimeter, dan dipasang secara presisi. Marmer Thassos mampu menyerap kelembapan udara malam, kemudian mempertahankan suhu sejuk meski cuaca sangat panas di siang hari. Sekarang Anda tahu, megapa kaki jamaah saat tawaf di siang hari tidak kepanasan.