Konsep tersebut membuat perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang berbagai aktivitas pengembangan pengetahuan dan sumber daya manusia.
“Konsep kantor kita ini adalah rumah peradaban dan laboratorium sumber daya manusia. Sehingga ketika kantor ini jadi banyak aktivitas baik itu dari anak-anak TK, SD, SMP sampai masyarakat,” jelasnya.
Berbagai fasilitas tersedia untuk mendukung kegiatan tersebut. Anak-anak dapat membaca buku sekaligus memanfaatkan fasilitas multimedia untuk mencari informasi dan mengenal dunia digital.
Selain itu, sejumlah kegiatan pengembangan sumber daya manusia juga dirancang untuk dilaksanakan di gedung tersebut.
“Kemudian ada kegiatan inklusi. Ini kami istilahkan semacam hub di Nagekeo,” lanjut Seri.
Baca Juga: KRL Palmerah-Tanah Abang Diduga Dilempari Batu, Penumpang Panik hingga Tirai Jendela Ditutup
Gempa Membuat Gedung Perpustakaan Rusak Berat
Seri masih mengingat ketika pertama kali mengetahui kondisi gedung perpustakaan setelah gempa terjadi.
Saat gempa mengguncang wilayah tersebut, dirinya sedang berada di rumah. Seorang rekannya yang tinggal tidak jauh dari kantor kemudian menghubunginya dan memberi tahu bahwa bangunan perpustakaan mengalami guncangan serta kerusakan.
Mendapat informasi tersebut, Seri langsung menuju lokasi untuk melihat kondisi bangunan.
Setibanya di sana, ia mendapati sejumlah fasilitas dan perabot mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa.
Meski demikian, beberapa perangkat komputer yang berada di lantai bawah masih berhasil diselamatkan.
Kerusakan gedung tersebut membuat aktivitas pelayanan perpustakaan untuk sementara harus dihentikan demi keselamatan masyarakat.
Baca Juga: Viral Jukir di Palu Diduga Ditembak Orang Tak Dikenal, Polisi Periksa CCTV di Lokasi
Berharap Ada Gedung Darurat untuk Layani Masyarakat