“Terus saat dia mau beli telur fresh, dari aku harga Rp23.000 tapi dia nyuruh aku nyatet di nota dengan harga Rp25.000,” ungkapnya.
Kisah tersebut kemudian mendapat perhatian pengguna media sosial dan memicu sejumlah peternak maupun pedagang telur lainnya ikut membagikan pengalaman mereka.
Pedagang Telur Lain Ikut Cerita
Salah satu pengguna Threads dengan akun @alwayshappyandlucky turut membagikan pengalaman keluarganya.
Ia mengatakan ibunya yang merupakan peternak ayam pernah mendapat tawaran untuk menjadi pemasok telur bagi salah satu dapur MBG.
Namun, menurut cerita tersebut, pihak dapur disebut meminta harga telur di bawah harga pasar. Pembayaran juga diklaim dilakukan secara tempo hingga satu bulan.
“Mereka minta harga di bawah harga pasar, pembayaran tempo janjinya paling lambat 1 bulan, minta nanti di-markup karena katanya banyak yang minta bagian,” tulis akun tersebut.
Baca Juga: Viral CCTV Satpol PP Aceh Utara Diduga Ambil Rokok saat Razia, 2 Petugas Kini Diperiksa
Ia menyebut sang ibu akhirnya memilih menolak tawaran tersebut karena merasa skema kerja sama yang ditawarkan tidak memberikan keuntungan yang layak.
“Ibuku menolak, karena sudah rugi dunia, akhirat pun rugi. Nggak ada untung sama sekali,” lanjutnya.
Beragam cerita tersebut kemudian menjadi perbincangan di media sosial. Meski demikian, dugaan yang disampaikan dalam unggahan para pengguna media sosial tersebut masih berupa pengalaman dan klaim pribadi yang perlu diverifikasi lebih lanjut.
BGN Sebelumnya Atur Pembelian Ayam dan Telur
Di tengah ramainya persoalan tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya telah menerbitkan surat edaran mengenai pengadaan ayam dan telur untuk kebutuhan program MBG.
Surat edaran yang diterbitkan pada 12 Agustus 2026 itu menekankan agar pembelian ayam dan telur dalam pelaksanaan MBG dilakukan dengan harga yang adil dan layak bagi peternak.