nasional

Elektabilitas KDM Salip Prabowo, Pengamat Sebut Sinyal Bahaya Mulai Terlihat

Jumat, 31 Juli 2026 | 12:13 WIB

TITIKTEMU.CO-Dua angka dari lembaga survei tiba-tiba membuat peta politik nasional terlihat berbeda: Dedi Mulyadi berada di atas Prabowo Subianto dalam simulasi elektabilitas. Bagi pengamat politik Tony Rosyid, ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sinyal yang patut dibaca serius oleh pemerintah.

Sorotan tersebut muncul setelah Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia merilis survei pada Juli 2026. Keduanya memang menggunakan metode dan angka yang berbeda, tetapi memiliki satu pola serupa: elektabilitas Dedi Mulyadi menempati posisi teratas.

Dalam survei semi terbuka SMRC periode 5-19 Juli 2026, Dedi memperoleh 35 persen suara responden. Prabowo berada di angka 14,5 persen, sedangkan Anies Baswedan mengantongi 8,2 persen.

Baca Juga: 5 Fakta Server Babylon di A Shop for Killers 2, Benda Kecil yang Bikin Perang Makin Gila

Sementara itu, survei Indikator pada 14-24 Juli menunjukkan Dedi meraih 32,4 persen. Prabowo mendapatkan 18,8 persen dan Anies berada di posisi berikutnya dengan 11,6 persen.

Bagi Tony, kemunculan pola yang relatif sama dalam dua survei membuat hasil tersebut menarik untuk diperhatikan. Ia bahkan menilai tren elektabilitas seperti ini berpotensi menjadi guncangan politik jika terus berlanjut dalam waktu panjang.

Namun, Tony juga mengangkat pertanyaan lain: apakah posisi Dedi Mulyadi yang menguat sepenuhnya berasal dari kinerja politiknya sendiri, atau ada kalkulasi politik yang lebih besar di belakangnya?

Baca Juga: “KPK Lawan KPK” di Kasus Febrie Adriansyah, Mengapa Bambang Widjojanto Bilang Begitu?

Ia juga menyinggung isu mengenai kemungkinan perubahan arah politik Dedi, termasuk rumor soal hubungannya dengan elite Gerindra. Ada pula spekulasi mengenai kemungkinan Dedi kembali mendekat ke Golkar, meski hal tersebut masih sebatas isu yang beredar dan belum menjadi fakta politik yang terkonfirmasi.

Elektabilitas turun bisa jadi masalah serius

Menurut Tony, hasil survei masih mungkin berubah. Politik, bagaimanapun, bukan foto yang dibekukan; preferensi publik dapat bergerak mengikuti kinerja pemerintah, isu yang berkembang, hingga perubahan koalisi.

Baca Juga: Prabowo Naik Kereta “Hotel Berjalan” KAI, Intip Mewahnya Nusantara Explorer

Tetapi persoalannya menjadi berbeda jika penurunan elektabilitas berlangsung terus-menerus. Tony menilai tren negatif yang dibarengi turunnya kepuasan, tingkat kepercayaan, dan ekspektasi publik bisa berubah menjadi ancaman politik bagi Prabowo.

Ia memperkirakan sejumlah konsekuensi dapat muncul. Kepercayaan publik terhadap pemerintah bisa melemah, kelompok di luar pemerintahan berpeluang semakin solid, sementara pendukung yang lebih pragmatis dapat mulai mencari posisi politik baru.

Halaman:

Tags

Terkini