TITIKTEMU.CO-Bagaimana jika perang besar sebenarnya tidak pernah benar-benar dimulai karena cinta? Bisa jadi, di balik kisah Paris dan Helena dalam The Odyssey, ada sesuatu yang jauh lebih serius: perebutan kendali atas sebuah lokasi strategis.
Film The Odyssey karya Christopher Nolan memang membawa penonton kembali ke dunia mitologi Yunani dan perjalanan panjang Odysseus menuju Ithaca. Namun, jika kisah tersebut dibaca menggunakan kacamata geopolitik, Perang Troya ternyata menyimpan cerita lain tentang kekuasaan, perdagangan, dan siapa yang mengendalikan jalur penting.
Troya berada di sekitar Selat Dardanella, jalur yang menghubungkan Laut Aegea dengan Laut Hitam. Pada zamannya, lokasi ini bukan sekadar titik di peta. Siapa yang berpengaruh di kawasan tersebut memiliki akses terhadap lalu lintas perdagangan sekaligus pergerakan militer.
Baca Juga: Kenapa Orang yang Tinggal Dekat Laut Lebih Jarang Depresi? Jawabannya Bukan Sekadar “Healing”
Artinya, Helena mungkin hanya menjadi pemantik cerita. Persoalan yang lebih besar adalah ruang strategis.
Menariknya, logika tersebut tidak hilang setelah ribuan tahun. Dunia modern masih memperlihatkan pola yang hampir serupa. Bedanya, “Troya” masa kini tidak selalu berbentuk kota berbenteng.
Lihat saja Selat Hormuz. Jalur laut yang secara geografis tidak terlalu luas ini memiliki pengaruh luar biasa terhadap ekonomi dunia karena menjadi salah satu rute penting distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Baca Juga: El Nino Kuat Sudah Datang, tapi Jakarta Malah Begini dalam 5 Hari ke Depan
Karena itu, ketegangan Amerika Serikat dan Iran tidak cukup dilihat hanya dari isu nuklir atau rivalitas politik. Ada kepentingan yang lebih besar di belakangnya: pengaruh di Teluk Persia dan keamanan jalur energi global.
Pemikiran Nicholas J. Spykman tentang Rimland terasa relevan di sini. Menurutnya, kawasan pesisir yang mengelilingi Eurasia memiliki arti strategis karena menjadi titik temu perdagangan, ekonomi, dan kekuatan militer.
Laut China Selatan juga berada dalam kategori yang sama. Kawasan ini merupakan jalur perdagangan penting, memiliki sumber daya perikanan dan potensi energi, sekaligus menjadi panggung persaingan kepentingan China, negara-negara Asia Tenggara, dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Financial Freedom Bukan Soal Berhenti Ngopi: Gen Z Bisa Miskin Karena Harga Rumah, Bukan Starbucks
China mempertahankan klaim historisnya melalui konsep nine-dash line. Sejumlah negara ASEAN menolaknya dengan merujuk pada hukum laut internasional, khususnya UNCLOS 1982. Sementara itu, AS menjalankan operasi kebebasan navigasi untuk mempertahankan prinsip terbukanya jalur pelayaran.
Di sinilah kisah Odysseus terasa semakin menarik.