TITIKTEMU.CO-"Ikuti passion-mu, dan kamu tidak akan bekerja sehari pun dalam hidupmu."
Kalimat ini mungkin menjadi salah satu nasihat karier paling populer dalam satu dekade terakhir. Namun bagi banyak Gen Z yang sedang mencari arah hidup, pesan tersebut justru sering menimbulkan tekanan baru.
Bagaimana kalau passion belum ditemukan? Bagaimana kalau passion berubah-ubah?
Atau lebih parah, bagaimana kalau passion ternyata tidak menghasilkan penghasilan yang cukup?
Faktanya, semakin banyak riset menunjukkan bahwa terlalu fokus mengejar passion bukan selalu strategi karier terbaik.
Ada faktor lain yang justru lebih berpengaruh terhadap kesuksesan dan kepuasan kerja jangka panjang.
Baca Juga: Co-Living Bukan Cuma soal Hemat Biaya — Ini yang Nggak Ada yang Bilang ke Kamu
Mitos Besar di Balik Mengejar Passion
Konsep passion sering dipahami sebagai sesuatu yang harus ditemukan sebelum memulai karier.
Akibatnya, banyak anak muda menunda langkah karena merasa belum menemukan "panggilan hidup" mereka.
Padahal penelitian dari Stanford University menemukan bahwa orang yang percaya passion harus ditemukan cenderung lebih mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Sebaliknya, mereka yang melihat minat sebagai sesuatu yang bisa dikembangkan lebih mampu bertahan dan berkembang dalam berbagai bidang.
Baca Juga: Kenapa Makin Banyak Pasangan Muda Jakarta Pilih Nggak Beli Rumah — dan Itu Masuk Akal
Dengan kata lain, passion sering kali bukan titik awal. Passion justru muncul setelah seseorang menguasai suatu keterampilan dan melihat hasil dari usahanya.