nasional

Buku Keuangan Populer Itu Salah? Ini 5 Saran yang Tidak Berlaku di Indonesia

Kamis, 18 Juni 2026 | 13:23 WIB
Ilustrasi Buku keuangan populer belum tentu cocok untuk semua orang di Indonesia. (Desain AI)

TITIKTEMU.CO-Kalau Anda pernah membaca buku keuangan populer seperti Rich Dad Poor Dad, The Psychology of Money, atau berbagai buku self-help finansial dari Amerika, mungkin ada satu perasaan yang muncul: “Masuk akal sih, tapi kok susah diterapkan di Indonesia?”

Masalahnya bukan karena buku-buku tersebut buruk.

Justru banyak pelajaran di dalamnya yang sangat berharga

. Namun, banyak nasihat keuangan lahir dari konteks ekonomi, budaya, dan sistem sosial yang berbeda dengan Indonesia.

Karena itu, ada beberapa saran dalam buku keuangan populer yang perlu dipahami secara kritis. Tidak semuanya bisa diterapkan mentah-mentah.

Baca Juga: Listrik Tiba-Tiba Padam di Bandung Raya, Benarkah Ini Sinyal Ancaman Krisis Energi yang Lebih Besar?

1. "Punya Rumah Itu Liabilitas" Tidak Selalu Benar

Salah satu gagasan paling terkenal dari buku keuangan populer adalah bahwa rumah tinggal bukan aset, melainkan liabilitas karena terus mengeluarkan biaya.

Secara teori, argumen ini masuk akal. Rumah tidak menghasilkan arus kas seperti properti sewa atau saham dividen.

Namun di Indonesia, rumah memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks.

Selain sebagai tempat tinggal, rumah sering menjadi simbol stabilitas keluarga dan perlindungan dari kenaikan biaya sewa yang terus terjadi.

Baca Juga: Jika Masih Bangga Lembur, Mungkin Anda Perlu Membaca Ini

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga properti di banyak kota besar terus meningkat dalam jangka panjangIn

Dalam kondisi tertentu, memiliki rumah justru bisa menjadi strategi perlindungan finansial yang masuk akal.

2. "Jangan Pernah Ambil Utang" Terlalu Sederhana

Halaman:

Tags

Terkini