TITIKTEMU.CO - Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji skema baru dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yakni memanfaatkan kantin sekolah sebagai salah satu sarana distribusi makanan kepada siswa. Gagasan ini disampaikan langsung oleh Kepala BGN, Nanik S. Deyang, sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran negara tanpa mengurangi kualitas maupun jangkauan program.
Wacana tersebut muncul di tengah perhatian publik terhadap arah kebijakan BGN pasca pergantian kepemimpinan. Menurut Nanik, pemerintah tidak harus selalu membangun dapur baru untuk mendukung pelaksanaan MBG. Fasilitas yang sudah tersedia, seperti kantin sekolah, dinilai dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung distribusi makanan bergizi kepada peserta didik.
"Kami sedang menyiapkan beberapa alternatif pelaksanaan yang lebih efisien. Prinsipnya, tidak harus selalu membangun dapur baru jika ada fasilitas yang sudah bisa digunakan," ujar Nanik dalam keterangannya di Jakarta.
Usulan Lama yang Kembali Mengemuka
Gagasan pemanfaatan kantin sekolah sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 2025, konsep serupa sempat ramai diperbincangkan setelah muncul sejumlah kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan program MBG. Saat itu, beberapa anggota DPR menilai bahwa pelibatan kantin sekolah dapat menjadi solusi untuk menjaga kualitas makanan sekaligus memperpendek rantai distribusi.
Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah, pernah mengungkapkan bahwa model penyediaan makanan melalui fasilitas sekolah telah diterapkan di sejumlah negara, termasuk Jepang dan China. Menurutnya, pengelolaan makanan yang lebih dekat dengan siswa berpotensi meningkatkan pengawasan mutu dan keamanan pangan.
Tidak Menghapus Peran SPPG
Meski demikian, pelibatan kantin sekolah tidak berarti menghilangkan fungsi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang selama ini menjadi tulang punggung program MBG. Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian, menilai kedua sistem tersebut justru dapat saling melengkapi.
Ia menjelaskan bahwa sekolah yang berada jauh dari dapur MBG atau SPPG dapat memanfaatkan kantin sebagai titik distribusi yang lebih efektif. Namun, sekolah yang ingin terlibat tetap harus memenuhi sejumlah standar dan persyaratan agar kualitas makanan yang diberikan kepada siswa tetap terjamin.
Menurut Hetifah, pengalaman beberapa sekolah yang telah berhasil mengelola kantin sehat dapat menjadi contoh dalam pengembangan skema tersebut.
Dinilai Mirip Program Makan Sekolah di Jepang
Wacana penggunaan kantin sekolah untuk MBG juga dinilai memiliki kemiripan dengan program school meal yang diterapkan di Jepang. Program tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pendidikan yang mengajarkan pola hidup sehat kepada peserta didik.