Agenda utamanya: penguatan kerja sama bilateral sekaligus menyampaikan posisi Indonesia dalam isu-isu global yang sedang bergejolak.
Baca Juga: Sekawan Limo 2 Hadir di Bioskop: Ketika Dosa Ayah Jadi Beban Anak, Lima Sahabat Kembali Berjuang
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa pertemuan itu bukan hanya soal kepentingan dua negara, tetapi juga menjadi forum bagi Indonesia untuk mempertegas peran aktifnya dalam mendorong stabilitas dan perdamaian dunia.
Rangkaian Safari Putin–Macron dalam satu perjalanan ini seakan menegaskan bahwa Indonesia ingin memainkan peran sebagai jembatan di tengah polarisasi global yang kian tajam.
Kunjungan Ketiga: Memenuhi Undangan yang Sudah Dua Kali Tertunda
Kunjungan terbaru pada 27 Mei 2026 memiliki cerita tersendiri.
Baca Juga: Cara Tarik Uang FreeFlick Apk Terbaru 2026, Apakah WD 1 Juta Benar Cair ke DANA?
Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan bahwa kunjungan kali ini sejatinya adalah pemenuhan undangan resmi dari Macron yang sudah dua kali tertunda — pertama kali dijadwalkan pada April 2026, namun gagal terlaksana karena jadwal kedua kepala negara tidak bisa bertemu.
Macron kemudian mengajukan ulang undangan tersebut saat Prabowo berkunjung ke Paris pada pertemuan sebelumnya, dan kali ini Prabowo hadir secara resmi dalam kapasitas kunjungan kenegaraan — sekaligus sebagai kunjungan balasan atas lawatan Macron ke Indonesia sebelumnya.
Lebih dari Sekadar Lawatan Biasa
Tiga kunjungan ke Perancis dalam lima bulan bukan hal yang terjadi begitu saja.
Ini adalah sinyal diplomatik yang jelas: Indonesia serius membangun fondasi hubungan yang lebih kokoh dengan Perancis, salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan kekuatan geopolitik yang tidak bisa diabaikan.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, intensitas diplomasi Prabowo dengan Macron mencerminkan strategi yang terukur — memastikan Indonesia punya kursi di meja percakapan penting dunia, bukan sekadar menjadi penonton.***