Iadibangun oleh manusia, dilatih dengan data tertentu, dan beroperasi dalam asumsi tertentu.
Jika kondisi pasar berubah secara ekstrem—seperti krisis atau kejadian tak terduga—model yang sebelumnya akurat bisa menjadi kurang relevan.
Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi ini?
Pertama, pahami bahwa AI adalah alat, bukan pengganti keputusan. Menggunakan robo-advisor tidak berarti kamu “lepas tangan”.
Justru, kamu perlu lebih sadar terhadap strategi yang dijalankan.
Kedua, tetap pegang kendali pada hal-hal fundamental.
Tujuan keuangan, toleransi risiko, dan horizon investasi adalah keputusan yang tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke mesin.
Baca Juga: Gen Z Mulai Tinggalkan Brand Mewah: Jika Bukan Logo Mahal, Lalu Apa yang Mereka Cari?
Ini adalah refleksi hidupmu, bukan sekadar angka.
Ketiga, jangan abaikan pemahaman dasar.
Kamu tidak harus menjadi ahli, tapi setidaknya tahu apa yang terjadi dengan uangmu.
Portofolio apa yang dibentuk? Kenapa komposisinya seperti itu? Apa risiko terbesarnya?
Keempat, siapkan “rencana manusiCari
Artinya, kamu tetap punya skenario di luar sistem. Jika pasar bergerak ekstrem atau situasi pribadimu berubah, kamu tahu kapan harus intervensi.
Menariknya, di tengah kemajuan teknologi, nilai manusia justru semakin penting.