nasional

BAIS: Jejak Senyap Intelijen Militer Indonesia dari Era Orde Baru hingga Reformasi

Kamis, 26 Maret 2026 | 18:05 WIB
BAIS: Jejak Senyap Intelijen Militer Indonesia dari Era Orde Baru hingga Reformasi. (cdn.radionetherlands.nl)

Memasuki abad ke-21, ancaman terhadap Indonesia tidak lagi berbentuk perang konvensional. Terorisme, konflik separatis, hingga serangan siber menjadi tantangan baru.

Dalam konteks ini, BAIS bekerja berdampingan dengan Badan Intelijen Negara (BIN). Keduanya memiliki fungsi berbeda, namun sering kali beririsan di lapangan.

Di Papua, misalnya, operasi keamanan melibatkan kerja sama antara intelijen militer dan sipil untuk menghadapi kelompok bersenjata. Hal serupa juga terjadi dalam operasi penanggulangan terorisme di Poso.

Meski demikian, koordinasi antar lembaga tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan budaya organisasi dan ego sektoral kerap menjadi hambatan.

Sorotan Publik dan Tantangan Integritas

Di tengah upaya reformasi, bayang-bayang masa lalu masih sesekali muncul. Beberapa kasus yang melibatkan oknum intelijen militer memicu kritik dari masyarakat.

Salah satunya adalah keterlibatan anggota BAIS dalam pemantauan demonstrasi sipil, yang dinilai melampaui batas kewenangan. Selain itu, kasus kekerasan terhadap aktivis juga kembali membuka luka lama.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: sejauh mana intelijen militer mampu beradaptasi dengan nilai-nilai demokrasi?

Baca Juga: Fakta Modal Rp3,5 Miliar Hendrik Irawan Bangun MBG, SPPG Ditutup Usai Viral Joget dan Klaim Rp6 Juta Per Hari 

Menjaga Keseimbangan antara Keamanan dan Demokrasi

Ke depan, tantangan terbesar bagi BAIS bukan hanya menghadapi ancaman eksternal, tetapi juga menjaga kepercayaan publik.

Transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme menjadi kunci agar intelijen tetap relevan di era modern.

Transformasi dari alat kekuasaan menjadi institusi pertahanan yang profesional bukanlah proses singkat. Namun, langkah-langkah reformasi yang telah dilakukan menunjukkan arah yang jelas.

BAIS kini berada di persimpangan antara masa lalu dan masa depan, antara bayang-bayang kekuasaan Orde Baru dan tuntutan demokrasi modern.

Jika mampu menjaga keseimbangan tersebut, intelijen militer Indonesia dapat terus menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan negara, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kebebasan yang diperjuangkan sejak Reformasi.***

Halaman:

Tags

Terkini