Transformasi besar terjadi ketika militer mulai memperkuat fungsi intelijen sebagai alat strategis dalam menghadapi ancaman politik dan ideologi.
Pada era 1960-an, rivalitas antara militer dan sipil semakin tajam. Intelijen menjadi alat penting untuk mengimbangi pengaruh Biro Pusat Intelijen (BPI) yang dipimpin Subandrio.
Baca Juga: Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, KontraS Soroti Perbedaan Temuan Polisi dan TNI
Era Keemasan Intelijen di Tangan Moerdani
Modernisasi intelijen militer mencapai puncaknya saat dipimpin Benny Moerdani. Dia menjadi tokoh sentral yang mengubah wajah intelijen menjadi instrumen kekuasaan yang sangat kuat.
Pada 1969, Benny memimpin Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat). Kemudian, pada 1980, lembaga ini berkembang menjadi Badan Intelijen ABRI (BAI), sebelum akhirnya menjadi BAIS pada 1986.
Di bawah kepemimpinannya, intelijen tidak hanya berfungsi sebagai pengumpul informasi, tetapi juga alat kendali politik.
Operasi-operasi rahasia, pengawasan terhadap oposisi, hingga pengendalian stabilitas nasional dilakukan secara sistematis.
Nama Moerdani semakin dikenal dunia setelah sukses memimpin operasi pembebasan sandera pesawat Garuda di Bangkok pada 1981.
Operasi ini dianggap sebagai salah satu aksi militer paling presisi dalam sejarah Indonesia. Namun, di balik keberhasilan itu, muncul berbagai kontroversi dan rumor yang menyelimuti kiprahnya.
Intrik Kekuasaan dan Konflik Internal
Dominasi Moerdani dalam tubuh militer tidak berjalan mulus. Ia sempat berseteru dengan Panglima ABRI saat itu, M. Yusuf, yang disebut-sebut memiliki ambisi politik.
Persaingan ini berujung pada pergantian kepemimpinan. Benny Moerdani naik menjadi Panglima ABRI. Uniknya, dia juga tetap menjabat sebagai Kepala BAIS.
Ketegangan juga terjadi dengan Prabowo Subianto yang saat itu masih perwira muda. Perbedaan pandangan terkait pendekatan terhadap kelompok Islam membuat hubungan keduanya memanas.