Pelangi yang telah tumbuh besar tiba-tiba mampu menciptakan robot canggih tanpa penjelasan yang memadai.
Baca Juga: Jangan Panik! Ini Jadwal Bank Buka Saat Lebaran 2026 yang Wajib Kamu Tahu
Alih-alih menunjukkan perkembangan karakter yang cerdas, narasi justru terasa terburu-buru dan kurang logis.
Masalah lain muncul dari ritme film yang terasa lambat di awal. Hampir setengah durasi digunakan hanya untuk memperkenalkan karakter robot tambahan dengan latar budaya berbeda.
Sayangnya, karakter-karakter ini tidak memiliki kedalaman.
Mereka hadir dengan stereotip yang dangkal dan kepribadian yang cenderung repetitif—ramai, berisik, dan kurang memberikan kontribusi signifikan terhadap alur cerita.
Alih-alih membangun konflik yang kuat, film ini justru dipenuhi dialog ringan yang tidak membawa perkembangan cerita.
Bahkan, beberapa adegan terasa seperti hanya ingin mengikuti tren hiburan populer, seperti tarian ala K-pop, tanpa relevansi yang jelas terhadap narasi utama.
Dari sisi humor, film ini juga kurang berhasil menciptakan kelucuan yang natural. Banyak lelucon terasa dipaksakan dan tidak sesuai dengan target penonton anak-anak.
Referensi budaya populer yang digunakan pun tidak semuanya relevan, sehingga justru terasa membingungkan.
Meski begitu, satu hal yang patut diapresiasi adalah kualitas visualnya. Efek CGI yang ditampilkan tergolong impresif untuk ukuran film Indonesia.
Lanskap Mars digambarkan dengan detail yang memanjakan mata, sementara desain robot menunjukkan kreativitas yang cukup tinggi.
Sayangnya, visual yang kuat tidak cukup untuk menutupi kelemahan cerita.
Tanpa naskah yang solid, semua elemen visual tersebut hanya menjadi “hiasan” tanpa makna yang mendalam.
Pada akhirnya, Pelangi di Mars adalah contoh bagaimana ambisi besar dalam produksi film perlu diimbangi dengan kekuatan cerita.