Tata Cara Puasa Syawal
Secara umum, tata cara puasa Syawal sama seperti puasa pada umumnya. Puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Yang membedakan hanyalah niatnya sebagai puasa sunnah di bulan Syawal. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Waktu puasa dari subuh hingga maghrib, sama seperti puasa Ramadan selama enam hari. Menurut para ulama seperti Ahmad bin Hanbal, puasa Syawal boleh dilakukan berturut-turut atau terpisah.
Namun, sebagian ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanafi menyebutkan bahwa yang lebih utama adalah dilakukan secara berurutan setelah Idul Fitri.
Seperti menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa serta menjaga perilaku selama berpuasa.
Niat puasa Syawal dapat dibaca pada malam hari atau sebelum fajar. Berikut bacaan niatnya:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ
Artinya: “Aku niat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah Ta’ala.”
Niat ini menjadi pembeda antara puasa Syawal dengan puasa lainnya.
Baca Juga: Nastar, Kue Warisan Belanda yang Jadi Ikon Lebaran
Lebih Utama Puasa Syawal atau Qadha Ramadan?
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan umat Islam, terutama bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadan.
Menurut banyak ulama, termasuk penjelasan dari Yahya Zainul Ma'arif, yang lebih utama adalah mendahulukan qadha puasa Ramadan. Pasalnya, qadha merupakan kewajiban, sedangkan puasa Syawal adalah sunnah.
Namun, ada solusi yang memudahkan. Jika seseorang mengqadha puasa di bulan Syawal, maka dia tetap bisa mendapatkan keutamaan bulan tersebut.