Baca Juga: Daftar 20 Kota Terpanas di Indonesia 2026: Jakarta Paling Membara, Ini Penyebabnya!
Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan
Tak hanya kekeringan, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Minimnya hujan membuat lahan menjadi kering dan mudah terbakar. Kondisi ini bisa memperburuk kualitas udara dan berdampak pada kesehatan masyarakat, seperti gangguan pernapasan akibat kabut asap.
Karena itu, langkah pencegahan karhutla menjadi sangat penting untuk dilakukan sejak awal, termasuk pengawasan titik rawan dan kesiapan tim pemadam.
Wilayah Timur Justru Berpotensi Hujan Lebat
Namun, dampak El Nino tidak terjadi secara merata di seluruh Indonesia. Saat wilayah barat dan selatan kekeringan, kawasan timur seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru mengalami curah hujan tinggi.
Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Artinya, pemerintah harus menyiapkan strategi berbeda untuk setiap wilayah sesuai dengan karakter dampaknya.
Berdasarkan model prediksi global, fenomena El Nino diperkirakan mulai terbentuk pada April 2026 dan berlangsung hingga Oktober 2026.
Selama periode tersebut, berbagai dampak ekstrem diprediksi akan dirasakan di berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: Bos Djarum Michael Bambang Hartono Meninggal Dunia di Usia 86 Tahun, Ini Profil dan Jejak Bisnisnya
Ada Dampak Positif: Produksi Garam Meningkat
Di balik ancaman, El Nino juga membawa peluang, terutama di sektor produksi garam. Cuaca panas dan minim hujan di wilayah selatan Indonesia akan meningkatkan produksi garam pada periode 2026–2027.
Hal ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang ekonomi bagi petambak garam, asalkan didukung dengan kebijakan dan infrastruktur yang memadai.
Pemerintah Diminta Siaga