nasional

SPPG Terima Rp 500 Juta per 12 Hari, BGN Klaim Program MBG Jadi Motor Ekonomi Daerah

Sabtu, 28 Februari 2026 | 14:00 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerima alokasi dana sebesar Rp 500 juta setiap 12 hari (Instagram @halokrw)

TITIKTEMU.CO-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga digadang-gadang menjadi penggerak ekonomi nasional.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerima alokasi dana sebesar Rp 500 juta setiap 12 hari untuk menjalankan program tersebut.

Menurut Dadan, sekitar 93 persen anggaran BGN langsung disalurkan ke SPPG yang tersebar di berbagai daerah.
Dari total anggaran MBG tahun 2026 sebesar Rp 268 triliun, kurang lebih Rp 240 triliun disebut mengalir langsung ke dapur-dapur MBG di seluruh Indonesia.
“Ini pola baru. Tidak ada satu rupiah pun yang disalurkan lewat pemerintah daerah. Dana langsung bergerak ke SPPG,” ujar Dadan dalam kegiatan sosialisasi regulasi kepegawaian di Jakarta.

Baca Juga: Spoiler One Piece 1175: Gear 5 Luffy Menggila, Loki Bangkit sebagai Nidhogg dan Imu Turun Tangan!
Ribuan Dapur, Triliunan Rupiah Beredar

Saat ini, tercatat ada 24.122 SPPG atau dapur MBG yang telah beroperasi.
Dengan skema Rp 500 juta per 12 hari, perputaran dana di tingkat akar rumput berlangsung sangat cepat dan merata.

BGN mencatat hingga saat ini dana yang telah beredar mencapai sekitar Rp 36 triliun.

Bahkan hingga Maret 2026, peredaran dana diprediksi menembus Rp 62 triliun.

Angka tersebut dinilai sebagai stimulus ekonomi signifikan di awal tahun.
Sebagai perbandingan, pada triwulan pertama tahun sebelumnya, stimulus Rp 37 triliun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 4,7 persen.

Baca Juga: Doa Puasa Hari ke Sepuluh Ramadan: Mohon Jadi Hamba Bertawakal dan Dekat dengan Allah

Jaminan Serapan Produk Lokal

Salah satu dampak langsung program MBG adalah meningkatnya serapan produk lokal.

BGN memastikan bahwa bahan pangan yang digunakan dalam program ini mengutamakan hasil produksi petani dan pelaku usaha daerah.

Kebijakan ini menciptakan kepastian pasar yang jarang terjadi sebelumnya.
“Belum pernah ada produksi lokal yang dijamin penyerapannya oleh negara seperti sekarang,” ujar Dadan.

Contohnya, petani wortel di Nusa Tenggara Timur dilaporkan merasakan kenaikan harga hingga tiga kali lipat berkat meningkatnya permintaan.
Kondisi ini berdampak pada kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP).

Halaman:

Tags

Terkini