Dampaknya terasa jelas:
- hujan ekstrem lebih sering terjadi, dan risiko longsor serta banjir bandang ikut naik drastis.
- Bagi warga Cisarua, ini bukan teori—ini pengalaman yang menghancurkan.
Baca Juga: KPK Cium Jejak Uang Jalan-Jalan Ridwan Kamil: Aktivitas Tukar Valas Miliaran Disorot
Petani Bukan Penyebab, Mereka Justru Ikut Terdampak
Aisyah juga menolak narasi yang menyudutkan petani sebagai biang keladi bencana. Menurutnya, petani sering tidak punya banyak pilihan untuk bertahan hidup.
Ia menyebut, agar petani bisa hidup layak, idealnya butuh sekitar 2 hektar lahan. Namun realitas di Desa Pasirlangu, Cisarua, jauh dari ideal.
Jika luas lahan dibandingkan dengan jumlah penduduk, rata-rata kepemilikan lahan hanya sekitar 0,3 hektar. Bahkan ada petani yang tidak punya lahan sama sekali.
Di kondisi seperti ini, petani bukan pihak yang “mengatur permainan”. Mereka justru berada di posisi paling rapuh—mudah disalahkan, tapi juga paling terdampak.
Aisyah menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa meskipun alih fungsi lahan bisa menjadi salah satu faktor, bencana longsor tetap bisa terjadi karena berkurangnya resapan air dan meningkatnya cuaca ekstrem.
Longsor Cisarua memberi pelajaran penting:
ketika alam berubah dan cuaca makin sulit ditebak, kita perlu berhenti mencari kambing hitam, dan mulai membangun solusi yang adil.
Karena dalam bencana seperti ini, yang paling menderita sering kali bukan yang paling bersalah—melainkan yang paling tidak punya kuasa.***