TITIKTEMU.CO - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa keputusan memperlebar defisit fiskal hingga 2,92 persen dalam APBN 2025 bukanlah kebetulan apalagi kelalaian.
Langkah ini diambil secara sadar sebagai strategi untuk mengangkat kembali denyut ekonomi nasional yang melemah sepanjang 2025 dan nyaris menyentuh fase krisis.
Menurut Purbaya, kebijakan ini dirancang sebagai langkah countercyclical, yakni kebijakan yang sengaja melawan arah perlambatan ekonomi.
Saat sektor usaha dan konsumsi melemah, negara justru maju ke depan dengan memperbesar peran APBN.
Baca Juga: Purbaya Buka Suara soal Isu Tukar Kursi BI–Kemenkeu: Rotasi Biasa atau Sinyal Besar?
APBN Dijadikan Mesin Pendorong Permintaan dan Produksi
Ia menjelaskan bahwa tanpa intervensi fiskal yang cukup agresif, roda ekonomi berisiko macet total.
Pemerintah memandang APBN sebagai alat utama untuk menghidupkan kembali permintaan masyarakat sekaligus menopang sisi penawaran di dalam negeri.
“Defisit itu memang kita pakai sebagai alat.
Tujuannya jelas, supaya ekonomi dalam negeri bergerak lagi.
Dari awal tahun lalu sampai Agustus, tren ekonomi terus melambat.
Kalau tidak ditahan, kita bisa jatuh lebih dalam,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Baca Juga: Purbaya Ubah Peta Dana Pensiun Nasional, Ini Dampaknya bagi ASN dan Aparat
Dari Ancaman Krisis ke Arah Pemulihan