Ada faktor struktural yang berlapis: sistem pendidikan yang makin rapuh, proses belajar yang terputus akibat pandemi COVID-19, serta pergeseran konsumsi informasi dari teks ke video dan audio.
Generasi muda tumbuh dalam ekosistem digital yang lebih mengandalkan visual dan suara ketimbang kata-kata tertulis.
Data Nasional yang Mengkhawatirkan
Penurunan kemampuan membaca juga tercermin dalam data nasional. Selama dua dekade terakhir, jumlah orang dewasa di AS yang membaca untuk hiburan anjlok hingga 40 persen.
Survei PIAAC bahkan mencatat sekitar 59 juta warga Amerika membaca pada level kompetensi terendah.
Angka ini memperkuat gambaran bahwa masalah literasi bukan kasus terisolasi, melainkan krisis sistemik.
Jika Tak Berubah, Siapa Korban Berikutnya?
Dengan kondisi saat ini, generasi muda Amerika nyaris kehilangan daya tahan terhadap teks tertulis.
Tanpa pembenahan besar dalam sistem pendidikan, Gen Z kemungkinan bukan generasi terakhir yang mengalami penurunan literasi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah standar akademik akan turun, melainkan seberapa jauh dunia pendidikan mampu bertahan sebelum kehilangan makna paling dasar dari belajar: membaca, memahami, dan berpikir.***