Ia mengaku sering harus membacakan teks dengan suara keras karena mahasiswa tidak membuka bacaan sama sekali malam sebelumnya.
Ironisnya, meski teks dibaca bersama, banyak mahasiswa tetap kesulitan menangkap makna kata-kata yang tertulis.
Notre Dame Mengalami Hal Serupa
Fenomena ini tak berhenti di satu kampus.
Di University of Notre Dame, profesor teologi Timothy O’Malley juga merasakan perubahan drastis dalam ekspektasi akademik.
Jika dulu ia bisa memberi tugas membaca 25 hingga 40 halaman per pertemuan, kini jumlah tersebut dianggap terlalu berat.
Menurutnya, mahasiswa sering kali kebingungan harus mulai dari mana ketika dihadapkan pada bacaan panjang.
Sebagian besar akhirnya bertahan dengan ringkasan instan, termasuk yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan.
Baca Juga: Ketika Sawit Masuk, Gajah Terdesak: Tesso Nilo dan Simpul Kusut Konflik Agraria
Membaca Sekilas, Bukan Mendalami
O’Malley menilai mahasiswa Gen Z dibesarkan dengan kebiasaan membaca cepat ala “scanning”, bukan membaca mendalam.
Pola ini membuat mereka terbiasa menangkap potongan informasi, bukan memahami keseluruhan gagasan.
Akibatnya, teks panjang terasa melelahkan, membingungkan, dan sering kali dihindari.
Akar Masalah yang Lebih Dalam
Para akademisi menilai krisis literasi ini bukan semata kesalahan individu mahasiswa.