TITIKTEMU.CO-Menjadi seorang fresh graduate di Indonesia saat ini rasanya seperti sedang dipaksa memenangkan maraton, namun kaki kita masih terikat oleh aturan-aturan rekrutmen yang ajaib.
Ekspektasi tinggi untuk segera mapan setelah wisuda seketika hancur berkeping-keping saat melihat deretan lowongan yang meminta pengalaman bertahun-tahun untuk posisi paling dasar sekalipun.
Ratusan lamaran terkirim, namun yang kembali hanyalah sunyi atau penolakan otomatis yang membuat semangat yang dulunya menyala kini mulai redup dan loyo.
Proses ini bukan sekadar soal mencari penghasilan, melainkan pertarungan mental melawan sistem yang sering kali terasa tidak manusiawi dan tidak masuk akal.
Baca Juga: Menjemput Keadilan di Gedung Merah Putih: Mengapa Warga Bekasi Justru Merindukan Kehadiran KPK?
Paradox Magang dan Labirin Syarat yang Tidak Realistis
Salah satu keluhan paling nyaring adalah syarat pengalaman kerja bagi mereka yang baru saja ingin memulai karir.
Bagaimana mungkin seseorang mendapatkan pengalaman jika untuk posisi magang saja perusahaan menuntut rekam jejak yang sudah matang?
Belum lagi fenomena satu posisi yang menanggung beban kerja tiga orang sekaligus, namun tetap dilabeli sebagai pekerjaan bagi lulusan baru dengan gaji yang minimalis.
Hal ini menciptakan lingkaran setan yang membuat banyak talenta muda merasa terjebak dalam fase persiapan tanpa pernah diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka.
Diskriminasi Tersembunyi: Saat Umur dan Penampilan Jadi Juri Utama
Dunia rekrutmen kita masih dihantui oleh standar-standar kuno yang tidak ada hubungannya dengan kompetensi kerja.
Banyak perusahaan yang secara terang-terangan menolak pelamar berusia di atas dua puluh lima tahun, seolah-olah kemampuan belajar seseorang berhenti di usia tersebut.