Meski demikian, pemerintah Indonesia belum merinci daftar lengkap komoditas lain yang juga akan menikmati tarif nol persen.
Airlangga menyebut, pembahasan teknis masih dalam tahap finalisasi.
Yang sudah dipastikan, fasilitas tersebut hanya menyasar komoditas tropis, sementara produk manufaktur seperti tekstil akan tetap terkena tarif resiprokal.
Baca Juga: James Cameron Pertimbangkan Akhiri Avatar Jika Fire and Ash Tak Tembus Target
Negosiasi RI–AS Masuk Tahap Akhir
Airlangga juga menyampaikan bahwa perundingan lanjutan antara Indonesia dan Amerika Serikat berjalan cukup positif.
Pemerintah Indonesia telah berkomunikasi langsung dengan United States Trade Representative (USTR) untuk merampungkan detail kesepakatan.
Targetnya, seluruh dokumen perjanjian dagang akan selesai sebelum akhir Januari 2026.
Dokumen tersebut rencananya akan ditandatangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump.
Saat ini, pemerintah AS masih menyesuaikan jadwal pertemuan kedua kepala negara.
Peluang Besar untuk Sawit, Tantangan bagi Tekstil
Masuknya sawit ke dalam skema tarif nol persen membuka peluang besar bagi ekspor Indonesia ke pasar AS.
Daya saing sawit diprediksi meningkat signifikan, terutama di tengah persaingan global yang ketat.
Namun di sisi lain, sektor tekstil masih menghadapi tantangan berat.
Tarif yang tetap tinggi membuat pelaku industri harus mencari strategi baru agar tetap kompetitif di pasar internasional.