TITIKTEMU.CO - Menjelang garis akhir 2025, kas negara belum sepenuhnya mengalir ke perekonomian.
Hingga akhir November, belanja negara tercatat masih tertinggal dari rencana, memaksa pemerintah menghadapi pekerjaan besar: menghabiskan ratusan triliun rupiah dalam waktu yang semakin sempit.
Data terbaru menunjukkan realisasi belanja negara baru menyentuh Rp2.911 triliun atau sekitar 82,5% dari target dalam outlook Lapsem.
Artinya, masih ada sekitar Rp616,4 triliun yang harus segera disalurkan sebelum kalender berganti tahun.
Baca Juga: OTT KPK Seret Tiga Jaksa di HSU, Kejagung Nonaktifkan Kajari, Kasi Intel, dan Kasi Datun
Anggaran Ada, Waktu yang Menyempit
Belanja negara bukan sekadar rutinitas administratif. Ia adalah bahan bakar utama roda ekonomi—menggerakkan konsumsi, investasi, hingga aliran uang di daerah.
Namun, dibandingkan tahun sebelumnya, laju belanja 2025 terlihat lebih lambat.
Pada periode yang sama di 2024, realisasi belanja sudah mencapai sekitar 87% dari pagu APBN.
Selisih ini membuat tekanan di penghujung 2025 terasa lebih berat, karena jumlah dana yang harus dikejar justru lebih besar.
Dilema Klasik: Ngebut atau Tetap Presisi
Percepatan belanja di akhir tahun memang berpotensi memberi dorongan instan bagi pertumbuhan ekonomi.
Tapi di sisi lain, pemerintah juga dihadapkan pada tantangan lama: jangan sampai belanja cepat mengorbankan kualitas.
Belanja yang tergesa tanpa perencanaan matang berisiko minim dampak, bahkan bisa menciptakan inefisiensi jangka panjang.