TITIKTEMU.CO - Setiap kali ada orang datang menawarkan harga untuk membeli kayu dari hutannya, Rosita selalu memberikan jawaban yang sama—penolakan tegas tanpa ragu.
“Mereka selalu pulang kecewa, karena kayu ini tidak akan saya perdagangkan,” tutur Rosita.
Ia percaya, hutan yang dijaganya bukan sekadar kepemilikan pribadi.
Bagi Rosita, pepohonan itu adalah titipan bumi, sesuatu yang harus dipelihara untuk kehidupan yang datang setelah dirinya.
Baca Juga: Daftar Film Indonesia Tayang Desember 2025: Horor, Drama, hingga Aksi
Warisan untuk Alam, Bukan Keluarga
Rosita dan anak-anaknya sudah memiliki satu tekad yang sama: hutan Megamendung ini tidak akan diwariskan sebagai harta keluarga.
Sebaliknya, mereka berkomitmen mengembalikannya kepada alam melalui Yayasan Hutan Organik.
“Hutan ini bukan untuk dimiliki, tapi untuk dijaga. Siapa pun, di mana pun, tolong rawat hutan ini,” pesannya.
Baca Juga: Pegawai SPBU Tampil dengan Jeans, Netizen Nyinyir: ‘Ini Seragam Versi Oplosan?’
Perempuan, Keteguhan, dan Perubahan
Rosita membuktikan bahwa perubahan lingkungan tak selalu harus berawal dari gerakan besar atau kebijakan pemerintah. Ia menunjukkan bahwa satu orang pun dapat menyalakan harapan.
Dengan kedua tangannya, ia tidak hanya menanam pohon—ia menanam kesadaran, menanam harapan, menanam keyakinan bahwa alam bisa pulih bila manusia mau melindunginya.
Hutan Organik Megamendung, Simbol Cinta yang Bertahan