“Penetapan ini dilakukan untuk mempercepat proses penanganan, termasuk mobilisasi logistik, evakuasi, dan koordinasi lintas lembaga,” kata Mualem dalam keterangan resminya, Jumat 28 November.
Dengan status tanggap darurat, pemerintah dapat mengakses anggaran serta sumber daya lebih cepat guna menangani warga terdampak, termasuk memastikan kebutuhan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Baca Juga: Banjir dan Longsor di Tapanuli Selatan, 15 Tewas, Ribuan Warga Mengungsi
Akses Terputus, Dua Kabupaten Terisolir
Di sejumlah wilayah, situasi semakin mengkhawatirkan karena jalan utama terputus akibat longsor. Aceh Tengah dan Bener Meriah menjadi dua kabupaten yang sulit dijangkau.
“Aceh Tengah hari ini betul-betul terkepung,” ungkap Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga.
Tim gabungan masih berupaya membersihkan material longsor, namun cuaca buruk membuat proses pembersihan terhambat.
TNI mengevakuasi lebih dari 100 kepala keluarga di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Di wilayah lain seperti Pidie Jaya dan Bireuen, tim Basarnas memindahkan setidaknya 140 warga ke titik pengungsian.
Tak hanya itu, infrastruktur energi dan telekomunikasi juga terdampak. Sejumlah gardu PLN rusak karena tertimbun material longsor dan terendam banjir, menyebabkan pemadaman di beberapa kecamatan.
Tim teknis dari PLN dan Telkom Group kini bekerja tanpa henti untuk memperbaiki layanan listrik serta telekomunikasi agar masyarakat kembali dapat berkomunikasi dan mengakses informasi.
Cuaca Ekstrem Masih Berpotensi Berlanjut
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan cuaca ekstrem di Aceh masih berpotensi berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Dengan curah hujan yang masih tinggi dan kondisi tanah yang jenuh air, risiko banjir susulan dan longsor tambahan masih sangat mungkin terjadi.
Warga diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di daerah dataran tinggi atau bantaran sungai.***