Situasi ini membuat warga was-was, terutama karena musim hujan sudah berlangsung dan intensitas curah hujan di kawasan Semeru kerap tinggi setiap hari.
Penyodetan Terkendala Cuaca
Pekerjaan penyodetan sempat terkendala oleh hujan deras yang turun sejak Jumat malam. Hujan membuat aktivitas alat berat tidak aman untuk dilakukan karena risiko banjir lahar mendadak serta pergerakan tanah yang licin.
Meski begitu, penyodetan tetap dikejar agar bisa selesai secepat mungkin. Nurul meminta doa agar proses berlangsung aman dan lancar demi keselamatan warga.
“Semoga semua diberi keselamatan,” ucapnya.
Pihak desa bersama petugas lapangan dan relawan juga meminta warga tetap waspada, terutama mereka yang tinggal di titik rendah atau dekat bantaran sungai yang dilewati aliran lahar.
Baca Juga: Begini Kondisi Terbaru Erupsi Gunung Semeru Menurut PVMBG
Banjir Lahar Sudah Mencapai Gladak Perak
Sementara itu, Kepala Tim Mitigasi Gunung Api Badan Geologi, Heruningtyas, melaporkan banjir lahar dingin dari erupsi Semeru terjadi pada Sabtu sekitar pukul 10.50 WIB.
Dia mengungakpkan aliran lahar lewat Besuk Kobokan yang merupakan jalur aliran utama Semeru sudah mencapai Gladak Perak hanya enam menit setelah banjir terjadi.
Dengan jarak 13 kilometer dari puncak Semeru, aliran lahar tersebut menunjukkan betapa cepatnya arus lahar saat curah hujan tinggi mengguyur kawasan hulu. Kondisi ini mengancam zona permukiman di jalur bawah.
Heruningtyas menjelaskan bahwa banjir lahar dingin muncul akibat hujan intensitas tinggi hingga sedang yang terjadi di sekitar Semeru sejak pagi.
“Material vulkanik yang menumpuk sejak erupsi sebelumnya ikut larut dan terbawa arus air hujan, menciptakan banjir lahar yang kuat dan berbahaya,” ujarnya.
Baca Juga: Status Gunung Semeru Level Awas, Warga di Zona Merah Diminta Segera Mengungsi
Warga Diminta Siaga