Namun, di tangan Sarwo Edhie, RPKAD tumbuh menjadi pasukan yang disiplin dan berperan besar dalam berbagai operasi militer nasional.
Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Soeharto Dapat Gelar Pahlawan Nasional Versi Istana
Peran Sentral dalam Penumpasan G30S/PKI
Nama Sarwo Edhie mulai dikenal publik pasaca G30S PKI 1965. Setelah Jenderal Ahmad Yani terbunuh, Sarwo memerintahkan pasukan RPKAD kembali ke markas di Cijantung.
Dia memimpin operasi militer penumpasan. RPKAD berhasil merebut markas RRI, mengepung Pangkalan Halim Perdanakusumah, dan membersihkan sisa-sisa pasukan yang dituding terlibat.
Perannya sangat besar dalam mengembalikan kontrol militer kepada Angkatan Darat dan mengamankan posisi strategis di Jakarta.
Setelah situasi ibu kota stabil, Sarwo bersama pasukannya melanjutkan operasi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menumpas kader-kader PKI.
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa operasi itu memakan korban besar, bahkan mencapai jutaan jiwa.
Meskipun banyak kontroversi mengiringinya, Sarwo Edhie tetap dianggap tokoh kunci dalam memulihkan keamanan nasional setelah kekacauan politik 1965.
Baca Juga: Suara dari Kalibata: Prabowo Ajak Bangsa Tak Lupa Akar Kepahlawanan di Hari Pahlawan 2025
King Maker yang Disingkirkan
Keberhasilan Sarwo Edhie justru menjadi awal dari babak baru dalam kehidupannya. Bukan naik ke puncak kekuasaan, tapi perlahan justru disingkirkan.
Menurut pengamat militer Salim Said dalam bukunya “Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto” (2016), Sarwo Edhie adalah salah satu dari tiga “king maker” yang berjasa mengantarkan Soeharto ke tampuk kekuasaan.
Dua nama lainnya adalah Letjen Kemal Idris dan Mayjen HR Dharsono. Namun, setelah Soeharto mantap berkuasa, ketiganya justru dipinggirkan.
Baca Juga: Prabowo Umumkan 10 Pahlawan Nasional Baru Hari Ini, Termasuk Soeharto