TITIKTEMU.CO - Di dunia yang serba online, jumlah likes sering kali dianggap sebagai tolok ukur cinta dan eksistensi.
Generasi Z, yang tumbuh bersama internet, sempat menjadikan validasi digital sebagai sumber kebahagiaan utama.
Namun perlahan, banyak di antara mereka mulai lelah. Mereka mulai sadar bahwa kebahagiaan sejati tak selalu datang dari layar yang menyala, melainkan dari diri sendiri yang belajar tenang.
Baca Juga: Mindfulness Bukan Sekadar Tren: Cara Tetap Waras di Dunia yang Terlalu Cepat
Ketika Validasi Jadi Racun Harian
Coba bayangkan: satu foto diunggah ke Instagram, dan dalam hitungan menit pikiran mulai dihantui pertanyaan, “Kenapa baru 10 likes?” — Padahal baru lima menit berlalu.
Fenomena ini disebut sebagai “toxic validation”, di mana seseorang menggantungkan harga dirinya pada reaksi digital orang lain. Akibatnya?
Rasa cemas meningkat, produktivitas menurun, dan ironisnya, hubungan dengan dunia nyata justru merenggang.
Sebuah riset dari Pew Research Center menemukan bahwa lebih dari 60% Gen Z merasa stres ketika unggahan mereka tidak mendapatkan cukup perhatian.
Artinya, masalah ini bukan sekadar soal media sosial, tapi soal kebutuhan manusia akan penerimaan yang mulai bergeser ke dunia maya.
Trend Baru: Digital Detox Bukan Sekadar Gaya
Kini, muncul gerakan baru di kalangan muda: digital detox. Tapi bukan hanya sekadar “libur dari media sosial”, melainkan detox dari validasi.
Beberapa komunitas anak muda di Jakarta dan Bandung, misalnya, mulai membuat kampanye offline seperti No Phone Sunday atau Offline Hangout, di mana peserta dilarang membuka media sosial selama sehari penuh.