“Kalimat itu bisa jadi bentuk cuci tangan. Sekarang pertanyaannya, siapa yang sebenarnya mau disalahkan?” tambahnya dengan nada tajam.
Baca Juga: Saksi Kasus Kematian Prada Lucky, Prada Richard Ungkap Trauma dan Permintaan Dipindahkan dari Satuan
Dugaan Cuci Tangan dan Kambing Hitam Baru
Anthony menduga, kini muncul upaya mencari “kambing hitam” baru. Ia menyebut nama Rini Soemarno, Menteri BUMN periode 2014–2019, yang dianggap punya andil besar karena proyek Whoosh berada di bawah kementeriannya.
“Semua ini tampak seperti upaya mengalihkan kesalahan. Tapi publik sudah semakin cerdas. Mereka ingin transparansi, bukan drama politik,” ujarnya.
KPK Mulai Bergerak, Tapi Publik Masih Menunggu Jawaban
Menanggapi sorotan publik, KPK melalui Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi Asep Guntur Rahayu menegaskan bahwa lembaganya sudah mulai mengumpulkan informasi dan bukti awal terkait dugaan penggelembungan biaya proyek.
“Kami tidak menunggu laporan. Kami juga mencari informasi sendiri,” ujarnya di Gedung Merah Putih, Jakarta, 21 Oktober 2025.
Sementara itu, Mahfud MD menyoroti selisih mencolok antara biaya per kilometer proyek Whoosh di Indonesia dan China.
“Di Indonesia mencapai 52 juta dolar per kilometer, sementara di China hanya 17–18 juta dolar. Ini harus ditelusuri—uangnya mengalir ke mana?” tegas Mahfud dalam kanal YouTube-nya.
Akhir Jalur: Publik Menunggu Keberanian KPK
Kasus Whoosh kini bukan lagi sekadar soal proyek transportasi cepat, tapi cermin transparansi dan akuntabilitas di negeri ini.
Di antara angka, jabatan, dan pernyataan politik, publik menunggu satu hal sederhana: kebenaran.
Dan mungkin, justru di rel kereta inilah, bangsa ini sedang diuji—apakah kecepatan pembangunan sebanding dengan kecepatan menegakkan integritas.***