TITIKTEMU.CO-Produktivitas adalah hal baik—bahkan sering dianggap sebagai kunci sukses.
Namun, ketika produktivitas berubah menjadi obsesi tak sehat yang memaksa seseorang bekerja tanpa henti hingga mengorbankan kesehatan mental dan hubungan pribadi, itulah yang disebut toxic productivity.
Fenomena ini makin sering terjadi di era digital, terutama setelah munculnya budaya “hustle culture” yang memuja kerja lembur, target tinggi, dan hidup yang terus mengejar pencapaian tanpa jeda.
Tanpa disadari, banyak orang hidup dengan pola kerja–lelah–recharge sebentar–kerja lagi dan menganggap itu normal. Padahal, itu tanda bahaya.
Baca Juga: Syahganda: Kritik Hasan Nasbi ke Purbaya Salah Sasaran, Itu Sindir Prabowo!
Apa Itu Toxic Productivity?
Toxic productivity adalah kondisi ketika seseorang merasa bersalah saat tidak bekerja atau merasa selalu harus produktif setiap waktu.
Bahkan waktu istirahat dianggap sia-sia, dan liburan terasa seperti dosa.
Contoh perilaku toxic productivity:
- Membalas email kerja jam 11 malam
- Membawa laptop ke kasur saat tubuh sudah lelah
- Tidak bisa menikmati weekend karena merasa harus “produktif”
- Mengabaikan kesehatan karena mengejar target
Ironisnya, orang yang terjebak toxic productivity biasanya dianggap pekerja hebat dari luar, tapi hatinya penuh tekanan dari dalam.
Baca Juga: Drama Gelap Myawaddy: 26 WNI Pulang dari Neraka Online Scam di Myanmar
Penyebab Munculnya Toxic Productivity
Kenapa fenomena ini muncul? Ada beberapa sumber:
1. Tekanan sosial – Media sering menormalisasi kalimat seperti “grind now, sleep later”.